HIKMAH DAN PESAN MORAL RAMADHAN

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dalam kehidupan ini…Lembaran yang putih, bersih, jernih, bening, bersinar dan bercahaya…

Ramadhan…Bulan Pendidikan Ruhaniah

Ramadhan mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah. Dengan puasa kita menjadi orang yang paling dicintai Allah. Puasa melatih kita meninggalkan sikap egois kita dan bukan memperkuatnya. Puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan, dapat memenuhi kebutuhan spiritual kita. Sebuah penelitian di Barat menyebutkan bahwa orang yang berpuasa akan lebih tajam pikirannya sehingga mampu menangkap pesan-pesan moral wahyu Ilahi baik melalui ayat2 kauniyah maupun kauliyah.

Puasa Adalah Bukti Iman dan Cinta Kepada Allah

Puasa adalah ibadah kepada Allah, yaitu seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan perkara-perkara yang disukai, dicintai dan diinginkannya daripada makanan, minuman dan syahwat hawa nafsu sehingga tampak jelas kejujuran imannya, kesempurnaan penghambaannya kepada Allah dan kekuatan cintanya serta pengharapannya atas apa yang ada di sisiNya. Seseorang tidak mungkin meninggalkan apa yang dicintainya kecuali disebabkan sesuatu yang lebih agung baginya dari apa yang ditinggalkannya tersebut.    Seorang mukmin rela meninggalkan syahwat nafsu yang dicintainya dan sangat diinginkannya demi untuk mendapatkan ridha Rabbnya karena ia meyakini bahwasanya ridha Allah ada dalam berpuasa.

 

 

Meraih Takwa Dengan Puasa

Diantara tujuan puasa adalah agar seseorang mencapai tingkatan takwa sebagaimana firman Allah Ta’aala: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Orang yang bertakwa adalah orang yang mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Orang yang berpuasa diperintahkan untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.  Orang yang berpuasa apabila terlintas dalam dirinya keinginan untuk berbuat kemaksiatan, ia segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia-pun segera menghindari kemaksiatan tersebut. Orang yang sedang berpuasa tidak akan membalas kebodohan dengan kebodohan dan caci maki dengan caci maki, ia sadar bahwa orang yang berpuasa harus sanggup menguasai diri dan emosinya.

Dengan Puasa Hati Jernih Untuk Berpikir dan Berdzikir

Diantara hikmah puasa adalah agar supaya hati kita jernih untuk berpikir dan berdzikir karena banyak makan minum serta memuaskan syahwat menyebabkan kelalaian dan adakalanya hati menjadi keras dan buta dari kebenaran karenanya.   Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang anak adam itu memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari pada perut. Cukuplah bagi seseorang makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa harus menambahnya, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya.”  (HR. Imam Ahmad dll).

Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam -Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.  Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani –Rahumahullah: “Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya.”

Puasa Menumbuhkan Kepedulian

Dengan berpuasa, orang kaya akan menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya berupa kekayaan dan kecukupan sehingga dia tidak pernah kekurangan makan, minum, menikah dan lainnya, padahal banyak orang yang tidak mendapatkan dan merasakan nikmat seperti itu.

Dengan demikian orang kaya tersebut akan memuji Allah dan bersyukur kepadaNya atas kemudahan yang diberikan kepadanya. Orang kaya tersebut juga teringat saudaranya yang fakir miskin, yang adakalanya merasakan kelaparan sepanjang hari dan malam karena ketidakmampuannya. Hal ini menjadikan orang kaya tersebut terdorong dan termotivasi untuk membantunya dengan bershadaqah agar terpenuhi kebutuhannya berupa sandang, pangan dan papan.

Oleh karena inilah, Rasululah SAW adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanan Beliau bertambah ketika datang bulan Ramadhan, yaitu ketika berjumpa Malaikat Jibril AS yang mengajarkan kepada Beliau Al-Qur’an.

 

 

 

Puasa Latihan Menundukkan dan Menguasai Hawa Nafsu

Diantara hikmah puasa adalah latihan menundukkan dan menguasai hawa nafsu sehingga benar-benar tunduh dan patuh untuk dikendalikan dan diarahkan menuju kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan. Karena pada dasarnya nafsu selalu mengajak kepada keburukan kecuali yang dirahmati Allah.  Apabila nafsu dilepaskan dan tidak dikendalikan pasti akan menjerumuskan seseorang ke dalam kehinaan, kebinasaan dan kesengsaraan. Namun, apabila dikendalikan dan ditundukkan pasti seseorang akan mampu membawanya menuju derajat dan kedudukan yang tinggi lagi mulia.

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat: 37-41).  “dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas (kacau dan sia-sia).” (QS. Al-Kahfi: 28).

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib –Radhiallahu ‘Anhu mengatakan: “Medan pertama yang harus kamu hadapi adalah nafsumu sendiri. Jika kamu menang atasnya maka terhadap yang lainnya kamu lebih menang. Dan jika kamu kalah dengannya maka terhadap yang lainnya kamu lebih kalah. Karena itu, cobalah kamu berjuang melawannya dahulu.”

Puasa Mempersempit Ruang Gerak Syetan

Lapar dan haus akan mempersempit aliran darah sehingga menjadi sempit pula ruang gerak syetan di tubuh kita karena syetan mengalir di tubuh kita seperti atau bersama aliran darah.   Dalam hadis tersebut Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjadikan berpuasa sebagai sarana untuk mengurangi dan menghancurkan nafsu syahwat. Inilah rahasia  mengapa orang yang berpuasa mudah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Puasa Menghancurkan Kesombongan

Puasa yang dilakukan dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam mampu menghancurkan nafsu-nafsu jahat dan meruntuhkan kesombongan sehingga menjadi tunduk kepada kebenaran dan rendah hati kepada sesama, karena banyak makan, minum dan berhubungan suami isteri membawa kepada sifat sombong, congkak, mau menang sendiri dan merasa tinggi atas orang lain dan tidak mau menerima kebenaran.  Jadi, diantara hikmah puasa adalah menghancurkan kesombongan sehingga seseorang menjadi tawadhu’ dan rendah hati. Allah dan juga manusia membenci orang-orang yang sombong dan mencintai orang-orang yang tawadhu’ dan rendah hati.

Hidup Sehat Dengan Puasa

Puasa memberikan faedah dan keuntungan dari sisi kesehatan karena dengan sedikit makan menjadikan pencernakan mampu untuk beristirahat sementara waktu sehingga kotoran-kotoran dan sisa-sisa yang terdapat di dalamnya terserap oleh tubuh dan tubuhpun menjadi sehat dengan puasa… Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah lain dari puasa, semoga kita mendapatkan semuanya, amien…

 

Iklan

Berusaha Menjauhkan Diri dari Dosa

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dalam kehidupan ini…Lembaran yang putih, bersih, jernih, bening, bersinar dan bercahaya…

Diantara hikmah puasa adalah  supaya hati kita jernih untuk berpikir dan berdzikir karena banyak makan minum serta memuaskan syahwat menyebabkan kelalaian, dan adakalanya hati menjadi keras dan buta dari kebenaran karenanya.   Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang anak adam itu memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari pada perut. Cukuplah bagi seseorang makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa harus menambahnya, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya.”  (HR. Imam Ahmad dll).

Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam -Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.  Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani –Rahumahullah: “Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya.”

Ada sebuah kisah menarik dari seorang  ulama:

Dikisahkan Suatu hari, ada seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?”

“Tidak mungkin, nak,” jawab ayahnya sambil tersenyum.

Gadis kecil itu penasaran. Baginya, bisa saja ada orang yang tidak melakukan dosa selama hidupnya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?”

Sambil menggelengkan kepalanya, ayahnya berkata, “Tak mungkin, nak.”

Gadis kecil itu tidak mau berhenti bertanya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?”

sang ayah berkata, “Tidak mungkin, nak.”

Gadis kecil itu bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?”

Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawabnya. Lantas ia berkata, “Hmm.. Satu hari 24 empat jam Nak, sepertiganya (terpotong) 8 jam kita gunakan untuk tidur, dan sisanya kita gunakan untuk bersosialisai, jadi tidak mungkin kita tidak berbuat berdosa dalam sehari”

Gadis kecil itu mengajukan pertanyaan lagi, “Lalu bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? Tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, ayah? Bisakah?”

Ayahnya tertawa dan berkata, “Nah, kalau itu mungkin bisa, nak.”

Gadis kecil itu tersenyum lega. “Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, supaya aku bisa belajar untuk tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ayah,” kata gadis kecil itu.

Ayahnya berkata : “Kalau begitu nak,  Yuk satu jam ini,  kita taat menahan diri untuk tidak berbuat dosa,kalau memang satu jam ini kita bisa,  maka pelan-pelan kita  tambah  setengah jam, dan jam-jam berikutnya…

Banyak orang membuat niat untuk hidup baik dan menjadi sholeh selama hidupnya. Sayang, niat mereka hanya bertepuk sebelah tangan. Hari ini berjanji untuk hidup baik keesokan harinya, nyatanya langsung dilanggar dengan melakukan hal-hal yang menyakitkan sesamanya.

 

Manusia tidak ada yang maksum kecuali para nabi dan rosul.

Rosulullah yang sudah dijamin masuk surga, yang sudah digaransi dari perbuatan dosa dan maksiat, tetapi beliau ber-istighfar 70 sampai 100 kali dalam sehari.  Beliau menangis dg terisak memohon ampun kepada Allah.

Lalu bagaimana dengan diri kita ini yang berlumuran dosa, berapa banyak  istighfar yang kita ucapkan setiap harinya??

Hikmah: jika  seseorang mampu menahan dari dosa (menjauhinya) maka akan dimudahkan di-ijabah  (dikabulkan) do’a2nya dan dilancarkan rejekinya.

Rosululloh bersabda:” Tidak ada yang  bisa merubah takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang bisa menambah dalam usia kita kecuali kebaikan.” Riwayat al hakim.

Ketauhilah bahwa seseoarang terhalang dari rezekinya sebanyak  maksiat dosa yang ia lakukan. Ini merupakan arahan indah yang  ulama  nasehatkan kepada kita agar kita membanyak beristighfar.

“Kalau kalian bisa beristighfar (kata Allah), maka akan aku beri kenikmatan  yang lebih baik ketimbang kau belum beristighfar.”

Perbanyak istighfar pada Allah.  Ini penting….

Kenapa demikian?   Karena Kesuksesan kita di bulan Ramadhan ini  sangat ditentukan oleh hal ini.    Karena yang membuat kita malas dalam beribadah, cepat lelah menjalankan kan sholat lail atau terawih di bulan Ramadhan ini adalah  beban dosa yang kita pikul ini.

Dosa akan menjauhkan kita dari ibadah, dosa akan meletihkan kita. Satu dosa kita terikat dengan dosa yang lain seperti rantai besi yang terjalin kuat

Dosa akan mengundang dosa lain. Bukan mengundang  ketaatan.

Ibnu Rajab berkata “Ganjaran dari dosa adalah dosa berikutnya.  Dosa mengarahkan kita pada dosa, dosa berikutnya lagi”.

Maka, mari  kita putus  rantai dosa-dosa tersebut dengan banyak beristighfar bertobat meminta  pada Allah SWT.

Istighfar merupakan sebab diampuninya dosa, sebab masuknya surga, tertolaknya musibah serta bertambahnya harta dan anak.

Susungguhnya ala qur’an  menunjukkan penyakit dan obat kalian. Penyakit kalian adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istighfar.

Fiman Allah dalam al Qur’an surat Hud ayat 52: Dan  dia (Nabi Hud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.

Bersyukurlah kita, karena Alllah masih berkenan menutup aib-aib (dosa) kita.  Sesungguhnya kita masih dihormati dan dihargai orang lain karena Allah masih menutupi aib kita. Andaikan Allah membukakan aib (keburukan kita, sesungguhnya pastilah tidak ada yang bisa menolong kita dari kehinaan.

Andaikan aib (keburukan)itu berbau busuk  laksana seperti bangkai, maka pastilah orang akan menjauhi kita, tidak betah lama2 berada dekat-dekat  dengan kita.

Mari kita optimalkan, sepuluh hari terakhir ini dengan banyak beristighfar memohon ampunan kepada Allah.

Mari kita terus bersibuk diri memperbaiki diri menjadi pribadi muslim yang lebih  baik dan bermanfaat bagi sesama dan sekitar kita.

Semoga Ramadhan ini merupakan ramadhan yang terbaik , diantara ramadhan-ramadhan yang telah lalu  dalam hidup kita.

 

Hikmah; 6 Pertanyaan Imam Ghazali

Suatu hari , imam Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu, Imam al Ghazali bertanya tentang enam hal. Pertama,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”

Murid-muridnya menjawab, “Orang tua guru, kawan, dan sahabat.”

Imam Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Namun, yang paling dekat dengan kita adalah,”MATI”. Sebab, itulah yang dijanjikan Allah bahwa setiap yang bernyawa, pasti akan mati. (QS. Ali Imran: 185)

Kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”

Murid-muridnya menjawab, “Negara Cina, Bulan, matahari, dan bintang-bintang.”

Lalu Imam Ghazali mengatakan, bahwa semua itu benar, tapi yang paling benar adalah “MASA LALU”. Masa lalu tidak akan pernah kembali, sedangkan manuasia tidak akan mampu kembali ke masa lalu atau mengubahnya. Oleh sebab itu, kita harus mampu menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.

Ketiga, “Apa yang paling besar di dunia ini?” Baca lebih lanjut

Ikatan Kesabaran dan Syukur

Hakikat dari Sabar

Hakikat sabar dan   syukur adalah ungkapan iman dalam menyhambut setiap karunia-Nya.  Sabar adalah bentuk syukur dalam menyambut kurnia nikmta-Nya yang berbentuk lara, duka, nestapa, dan mesibah.  Syukur merupakan bentuk sabar dalam menyambut kurnia-Nya dalam bentuk kesenangan, kelapangan, sukaria dan nikmat.

Para ulama menyatakan, sabar  ada dalam empat hal yaitu: mentaati Allah,menjauhi kemaksiatan, menerima musibah,, dan membersamai orang-orang yang benar.  Dan semuanya juga adalah rasa syukur kepada Allah.

1. Sabar dalam Taat

Ia kadang tersa berat, ibadah terasa hany sebagai beban, keshalihan terasa menyesakkan.  Tetapi syukurlah, Allah itu dekat, Maha Mendengar bisik pinta dan lirih taubat.

 

2. Sabar dalam menjauhi Kemaksiatan

Ia kadang tampak menarik, kedurhakaan terlihat asyik, dan dosa-dosa terbayang asyik.  Tetapi syukurlah iman itu rasa malu pada-Nya, merasa selalu dalam pengawasan-Nya yang lebih akrab daripada urat lleher kita.

 

3. Sabar dalam menghadapi Musibah

Kadang ia hadir tak terduga, menghadirkan kedukaan yang dalam  dan menyesakkan dada.  Tetapi syukurlah denganya dosa gugur, derajat dinaikkan, dan sesungguhnya beserta kesulitan itu selalu ada kemudahan.

 

4. Sabar dalam kebersamaan bersama orang Benar

seringkali kawan yang tulus lebih menjengkelkan daripada musush yang menyamar.  Tetapi syukurlah bersama mereka dalam keshalihan akan membawakan keistiqomahan, menikmati manisnya iman, berada dalam naungan Allah, dan mimbar-mimbar cahaya di surga yang iri Nabi dan Syuhada.

 

…. Dan Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar [39] :10)

Sabar sebenarnya tiada batasnya, hanya bentuknya yang boleh disesuaikan.  Maka imanlah yang akan menuntun taqwa; ia cerdik dan peka dalam memilih bentuk sabar dan syukur atas segala wujud cinta dari-Nya.  Taqwa itu membawa sabar kita mendapat kejutan yang mengundang syukur, dan jalankeluar dari masalah serta rizqi yang tak disangka-sangka.  Tiap nikmat yang disyukuri juga berpeluang  mengundang musibah yang harus disabari, seperti tampannya Yusuf dan cinta  Yaqub padanya.

Maka Tiada kata henti untuk Sabar dan Syukur, sebab ia adalah tali yang menghubungkan kita dengan Rabb Sang Pencipta.

 

(Resume: buku Lapis-Lapis Keberkahan – Salim A. Fillah, 2014. Hlm 414-415)

Makna Lembaran

Betapa indah kata-kata Al Imam ibn Rajab Al Hambali dalam sya’irnya:-
ليس العيد لمن لبس الجديد
إنما العيد لمن طاعاته تزيد
ليس العيد لمن تجمل باللباس و الركوب
إنما العيد لمن غفرت له الذنوب
Bukanlah hari raya itu milik orang yang berpakaian baru, Akan tetapi hari raya itu, milik orang yang ketaatannya bertambah. Dan bukanlah hari raya itu milik orang yang berhias dengan pakaian yang indah dan kendaraannya mewah,  tetapi hari raya itu adalah milik orang yang telah diampunkan  baginya  dosa-dosanya. Bagaimana air mata seorang mukmin tidak mengalir atas perpisahan dengan bulan ramadhan, sedang dia tidak mengetahui apakah masih tersisa lagi umurnya untuk kembali pada ramadhan yang akan datang.

[kitab Lathaiful Ma’arif  karya Al Imam Ibn Rajab]

Sholat Jamak dan Qashar ‘Keringanan dalam Perjalanan Musafir’

Shalat Jamak dan Qasar merupakan suatu keringanan (rukhsah) yang diberikan Allah swt. kepada setiap umat Islam yang sedang kesulitan dalam menjalankan ibadah shalat, seperti seseorang musafir (dalam perjalanan), terancam jiwanya, hartanya, atau kehormatannya. Untuk mengetahui lebih jauh pembahasan mengenai shalat Jamak dan Qasar serta shalat dalam keadaan darurat, berikut ini….

SHOLAT JAMA’
Shalat yang digabungkan, yaitu mengumpulkan dua shalat fardhu yang dilaksanakan dalam satu waktu. Misalnya, shalat dzuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur atau pada waktu Ashar. Shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib atau pada waktu Isya’.

Sedangkan Subuh tetap pada waktunya dan tidak boleh digabungkan dengan shalat lain. Shalat Jama’ ini boleh dilaksankan karena bebrapa alasan (halangan) berikut ini :
a. Dalam perjalanan yang bukan untuk maksiat
b. Apabila turun hujan lebat
c. Karena sakit dan takut
d. Jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni kurang lebihnya 81 km. (begitulah yang disepakati oleh sebagian Imam Madzhab sebagaimana disebutkan dalam kitab AL-Fikih, Ala al Madzhabhib al Arba’ah, sebagaimana pendapat para ulama madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali.)

Tetapi sebagian ulama lagi berpendapat bahwa jarak perjalanan (musafir) itu sekurang-kurangnya dua hari perjalanan kaki atau dua marhalah, yaitu 16 (enam belas) Farsah, sama dengan 138 (seratus tiga puluh delapan) km.

Menjama’ shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya, baik musafir atau bukan dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur, jadi dilakukan ketika diperlukan saja. (lihat Taudhihul Ahkam, Al Bassam 2/308-310 dan Fiqhus Sunnah 1/316-317).

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa qashar shalat hanya disebabkan oleh safar (bepergian) dan tidak diperbolehkan bagi orang yang tidak safar. Adapun jama’ shalat disebabkan adanya keperluan dan uzur. Apabila seseorang membutuhkannya (adanya suatu keperluan) maka dibolehkan baginya melakukan jama’ shalat dalam suatu perjalanan jarak jauh maupun dekat, demikian pula jama’ shalat juga disebabkan hujan atau sejenisnya, juga bagi seorang yang sedang sakit atau sejenisnya atau sebab-sebab lainnya karena tujuan dari itu semua adalah mengangkat kesulitan yang dihadapi umatnya.” (Majmu’ al Fatawa juz XXII hal 293)

Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama’ shalatnya adalah musafir ketika masih dalam perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan (HR. Bukhari, Muslim), turunnya hujan (HR. Muslim, Ibnu Majah dll), dan orang sakit. (Taudhihul Ahkam, Al Bassam 2/310, Al Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi Al Khalafi 139-141, Fiqhus Sunnah 1/313-317).

Berkata Imam Nawawi Rahimahullah : ”Sebagian Imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang mukim boleh menjama’ shalatnya apabila diperlukan asalkan tidak dijadikan sebagai kebiasaan.” (lihat Syarah Muslim, imam Nawawi 5/219 dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141).

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjama’ antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di Madinah tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan). Ketika ditanya hal itu kepada Ibnu Abbas beliau menjawab : ”Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak ingin memberatkan umatnya.” (HR.Muslim dll. Lihat Sahihul Jami’ 1070).

Shalat jama’ dapat dilaksanakan dengan 2 (dua) cara :
1. Jama’ Taqdim (Jama’ yang didahulukan) yaitu menjama’ 2 (dua) shalat dan melaksanakannya pada waktu shalat yang pertama. Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu Dzuhur atau shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib.

Syarat Sah Jama’ Taqdim ialah:
a. Berniat menjama’ shalat kedua pada shalat pertama
b. Mendahulukan shalat pertama, baru disusul shalat kedua
c. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk, iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting

2. Jama’ Ta’khir (Jamak yang diakhirkan), yaitu menjamak 2 (dua) shalat dan melaksanakannya pada waktu shalat yang kedua. Misalnya, shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu Ashar atau shalat Maghrib dan shalat Isya’ dilaksanakan pada waktu shalat Isya’.

Syarat Sah Jama’ Ta’khir ialah:
a. Niat (melafazhkan pada shalat pertama) yaitu : ”Aku ta’khirkan shalat Dzuhurku diwaktu Ashar.”
b. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk, iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting.

NOTE :
Dalam Jama’ ta’khir tidak disyaratkan mendahulukan shalat pertama atau shalat kedua. Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar boleh mendahulukan Ashar baru Dzuhur atau sebaliknya. Muadz bin Jabal menerangkan bahwasanya Nabi SAW dipeperangan Tabuk, apabila telah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau kumpulkan antara Dzuhur dan Ashar dan apabila beliau ta’khirkan shalat Ashar. Dalam shalat Maghrib begitu juga, jika terbenam matahari sebelum berangkat, Nabi SAW mengumpulkan Maghrib dengan Isya’ jika beliau berangkat sebelum terbenam matahari beliau ta’khirkan Maghrib sehingga beliau singgah (berhenti) untuk Isya’ kemudian beliau menjama’kan antara keduanya.

Shalat yang Boleh Dijamak dan Diqasar

Menurut sunah Rasulullah saw., shalat yang boleh dijamak ialah shalat Dhuhur dengan shalat Asar dan shalat Maghrib dengan shalat Isya. Shalat Subuh tidak boleh dijamak sehingga shalat Subuh harus dilaksanakan secara terpisah dari shalat lain. Jadi, shalat Subuh tetap dilaksanakan pada waktunya.

Adapun shalat yang boleh diqasar adalah shalat yang jumlah rakaatnya empat. Dengan demikian. shalat maghrib dan Subuh tidak boleh diqasar. Shalat Maghrib dan Subuh tetap dilakukan tiga rakaat dan dua rakaat.

Syarat Shalat Jamak dan Qasar

Setiap oleng Islam diperbolehkan menjamak shalat apabila terpenuhi syarat sebagai berikut

a. Sebagai Musafir atau Sedang Bepergian

b. Dalam Keadaan Tertentu, seperti Turun Hujan Lebat

c. Keadaan Sakit

d. Ada Keperluan Penting Lainnya

Sungguhpun Islam memberi keringanan dalam pelaksanaan shalat fardhu sebagaimana di atas, hendaknya kita tidak mempermudah untuk menjamak atau mengqasar shalat jika tidak ada alasan yang dapat dibenarkan. Mengenai syarat sah mengqasar shalat, para ulama berbeda paham. Tidak kurang dari dua puluh pendapat dalam hal ini. Sementara itu, ada ulama yang menetapkan bahwa diperbolehkannya mengqasar shalat ialah jika bepergiannya sejauh tiga mil lebih. Adapun jalan yang paling selamat dalam hal mengqasar shalat ialah mengembalikan masalah ini pada Al Qur’an Surat An Nisa’ ayat 110.

Shalat Jamak Qashar

Shalat Jamak Qashar adalah dua shalat fardu yang dikerjakan secara berurutan dalam satu waktu dan jumlah rakaatnya diringkas. Apabila dikerjakan pada waktu shalat yang awal, disebut shalat Jamak Qashar Takdim. Apabila dikerjakan pada waktu shalat yang akhir, disebut shalat Jamak Qashar Takhir.

a. Shalat Jamak Takdim dengan Qashar

1) Shalat Dhuhur dan Asar

Cara mengerjakannya, yaitu shalat Dhuhur dua rakaat kemudian dilanjutkan shalat Asar dua rakaat. Shalat Dhuhur dan Asar ini dikerjakan pada waktu dhuhur. Bacaan dari gerakannya seperti shalat Dhuhur dan Asar, yang berbeda hanya niatnya.

2) Shalat Maghrib dan Isya

Cara mengerjakannya, yaitu shalat Maghrib dahulu tiga rakaat, kemudian dilanjutkan shalat Isya dua rakaat. Salam Maghrib dan Isya ini dikerjakan pada waktu maghrib. Bacaan dan gerakannya seperti shalat Maghrib dan Isya yang biasa kita terjakan, yang berbeda hanya niatnya.

b. Shalat Jamak Takhir dengan Qashar

Shalat Jamak Takhir dengan qasar adalah shalat Dhuhur dan Asar. Cara mengerjakannya adalah shalat Dhuhur dahulu dua rakaat, kemudian dilanjutkan shalatAsar dua rakaat. Shalat Dhuhur

danAsar ini dikerjakan pada waktu asar. Gerakan dan bacaannya seperti shalat Dhuhur dan Asar yang biasa kita kerjakan, yang berbeda hanya niatnya.

Referensi: Diolah dari berbagai sumber.

Harga pasar untuk saham dalam Islam

Pada prinsipnya transaksi bisnis harus dilakukan pada harga yang adil, sebab ia adalah cerminan dari komitmen syari`ah Islam terhadap keadilan yang menyeluruh. Secara umum harga yang adil ini adalah harga yang tidak menimbulkan eksploitasi atau penindasan sehingga merugikan salah satu pihak dan menguntungkan pihak yang lain. Harga harus mencerminkan manfaat bagi pembeli dan penjualnya secara adil, yaitu penjual memperoleh keuntungan yang normal dan pembeli memperoleh manfaat yang setara dengan harga yang dibayarkannya.

Ajaran Islam secara keseluruhan menjunjung tinggi mekanisme pasar yang bebas. Harga keseimbangan dalam pasar yang bebas (competetive market price) merupakan harga yang paling baik, sebab mencerminkan kerelaan antara produsen dan konsumen (memenuhi persyaratan kerelaan diantara dua belah pihak). Menurut Mannan ada 3 fungsi dasar dari penetapan suatu harga, yaitu fungsi ekonomi, fungsi sosial dan fungsi moral. [1]

Dalam Islam, pasar tidak boleh lepas dari norma-norma dan aturan syariah. Konsep pasar dalam ekonomi Islam adalah sebuah mekanisme yang dapat mempertemukan pihak penjual dengan pihak pembeli. Adapun penentuan harga ditentukan oleh kekuatan-kekuatan pasar, yaitu kekuatan  permintaan (demand ) dan kekuatan penawaran ( supply). Sedangkan pertemuan antara penjual dan pembeli harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut[2]:

  1. Segala transaksi dilakukan harus atas dasar suka-sama suka atau kerelaaan diantara kedua belah pihak. Hal ini sesuai dengan dalil dalam al Qur’an:

يايّها الّذ ين امنوا لا تأ كلوااموالكم بينكم باالباطل الّاان تكون تجارةعن تراض مّنكم ولا تقتلوا انفسكم انّ الله كان بكم رحما [3]ÇËÒÈ

  1. Berbuat adil, jujur dan tidak melakukan kecurangan. Kejujuran merupakan pilar yang sangat penting dalam Islam, sebab kejujuran adalah nama lain dari kebenaran itu sendiri. Firman Allah dalam Al Qur’an:

ولا تقربوأ ما ل اليتيم إ لاّ با لّتي هي أحسن حتّى يبلغ أشدّه, وأوفوا الكيل واميزن بالقسط, و لا نكلف نفسا إلاّ وسعها, وإذا قلتم فا عد لوأولو كان ذاقربى وبعهد الله أوفوا ذلكم وصّلكم به لعلّكم تدكّرون ÇÊÎËÈ [4]

  1. Sesuai pada aturan dan tidak merugikan pihak lain.
  2. Transparan dalam transaksi dengan tidak menyembunyikan hal-hal yang ditutupi sehingga menimbulkan ketidakjelasan.
  3. Bersaing secara sehat dan tidak menghalalkan segala cara yang dapat merusak pasar. Mekanisme pasar akan terhambat bekerja jika terjadi penimbunan atau monopoli.

Menurut Adiwarman Karim, penentuan harga dilakukan oleh kekuatan pasar, yaitu kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran. Pertemuan permintaan dengan penawaran tersebut haruslah terjadi secara rela sama rela, tidak ada pihak yang merasa terpaksa untuk melakukan transaksi pada tingkat harga tersebut.[5] Mekanisme pasar yang wajar mengharuskan adanya moralitas (fair play), kejujuran (honesty), keterbukaan (transparancy) dan keadilan (justice). Jika nilai-nilai ini ditegakkan, maka tidak ada alasan untuk menolak harga pasar. Baca lebih lanjut

Investasi Zakat Untuk Kesejahteraan Ummat

Sebagai negara dengan jumlah ummat Islam terbanyak di dunia, Indonesia memiliki peluang terkumpulnya jumlah zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang besar.   Hakikat zakat yaitu dimana orang yang mampu (kaya) berkewajiban membantu orang tidak mampu (miskin). Zakat adalah rukun islam yang ketiga setelah syahadat dan sholat. Ajaran sunnah telah memberikan batasan-batasan-batasan tentang harta apa saja yang wajib dizakati, batas minimalnya (nishab), dan ukuran/jumlah zakat yang diwajibkan dalam harta-harta tersebut. Allah SWT telah menjelaskan kemana saja zakat itu disalurkan dalam al qur’an.

Pendapatan utama Indonesia bersumber dari penerimaan pajak yan ditarik dari rakyat. Penerimaan dari pajak saat ini mencapai lebih dari separuh APBN, digunakan untuk belanja dan pembangunan di Indonesia. Jika ummat muslim Indonesia memiliki kesadaran untuk membayar zakat seperti halnya kesadaran dalam membayar pajak, maka dana (ZIS) yang terkumpul tentunya akan lebih besar. Penerimaan zakat yang maksimal akan menyediakan dana yang dapat dioptimalkan dalam usaha memakmurkan masyarakat.

Salah satu alasan kurang maksimalnya penerimaan zakat adalah kurangnya edukasi (informasi) tentang zakat pada ummat. Sebagian besar zakat (ZIS) baru tekumpul dari para golongan yang melek informasi dan memahami pentingnya kewajiban berzakat, seperti kalangan kyai, ustadz, santri, maupun ‘alim yang paham agama.

Dengan segala kelebihan yang ada saat ini membayar zakat sangat mudah.   Zakat dilakukan dengan cara transfer, layanan jemput zakat, maupun dengan datang langsung ke kantor lembaga amil zakat. Kita dapat juga berkonsultasi dengan konsultan zakat untuk memperoleh informasi tentang harta yang wajib dizakati atau menghitung besarnya zakat yang harus dikeluarkan. Akhirnya marilah kita giatkan menunaikan kewajiban ber-zakat untuk membantu sesema menuju kesejahteraan bangsa. Baca lebih lanjut

Bank Syariah Belum Syar’i?

Masih banyak kalangan yang skeptis dengan Bank Syariah, mereka menilai bank syariah tidak jauh berbeda dengan bank konvensional. Dengan kata lain, bank syariah masih penuh dengan riba. Undang-undang BI yang menjadi payung hukum dan fatwa DSN MUI yang menjadi payung syariah, belum cukup untuk melegalkan praktek bank syariah. Lebih parah lagi, mereka menuduh bank syariah telah melakukan kamuflase dengan berbagai istilah syariah untuk menutupi praktek riba. bank syariah juga masih belum jelas dalam memberikan dasar penetuan return depositonya.

Bank konvensional menggunakan bunga sebagai dasarnya, maka jika suku bunga dinaikkan, inflasi pun akan naik, sementara perkembangan ekonomi akan turun. Muncul beberapa pandangan skeptis bahwasanya perbankan syariah saat ini menjadi suatu fenomena sebagai alternatif sistem bank tanpa riba yang diyakini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi.

Logo IB Perbankan Syariah

Perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah saat ini masih direspons dengan skeptis oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Sikap ini juga dirasakan perbankan syariah di negara Muslim lainnya. Skeptisme masyarakat terhadap perbankan syariah tidak lepas dari dominasi sistem keuangan perbankan berbasis bunga yang telah berlangsung sejak masa kolonial sampai sekarang.

Selain itu, masih ada beberapa permasalahan khususnya dalam operasional kelembagaannya, khususnya dalam perbankan. Irfan Syauqi menemukan adanya  beberapa problematika yang muncul seiring dengan berkembangnya industri perbankan syariah yang dapat dikategorikan pada beberapa masalah yang di antaranya adalah:

1. Pertama, adalah kurangnya deposito.

2. Kedua, masalah yang dihadapi oleh perbankan syariah adalah likuiditas berlebihan (excessive liquidity).

3. Ketiga, adalah problematika biaya dan profitabilitas.

4. Keempat yang dihadapi selanjutnya adalah masalah pendanaan pinjaman untuk konsumsi.

5. Kelima adalah masih minimnya sumberdaya manusia yang memahami secara komprehensif segala hal yang berkaitan dengan industri perbankan syariah.

6. Keenam yang dihadapi kalangan perbankan syariah adalah belum maksimalnya institusi undang-undang yang menjadi payung hukum bagi keseluruhan aktivitas perbankan Islam.

Persoalan Bunga Bank

Sikap skeptis diatas dapat dipahami sebab mereka masih belum percaya dengan adanya lembaga keuangan tanpa adanya bunga. Demikian pula para pengamat luar yang menyatakan dapatkah suatu sistem keuangan dapat dijalankan tanpa bunga? Jelaslah bahwa suku bunga merupakan faktor yang mengakibatkan ‘demand’ untuk investasi dan tabungan. Perspektif neo-klasik percaya bahwa tabungan dan investasi akan dipengaruhi oleh turun atau naiknya suku bunga. Investasi menyatakan kebutuhan akan sumber-sumber yang dapat diinvestasikan, tetapi tabungan menyatakan persediaan, sedangkan suku bunga merupakan harga dari sumber-sumber yang dapat diinvestasikan.

Teori neo-klasik  dengan gamblangnya berpendapat bahwa mengkaitkan tingkat suku bunga secara otomatis akan merangsang para investor untuk menginvestasikan uangnya. Sesuai dengan pandangan ini, sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia selalu akan membandingkan keputusan investasi atau menabung dengan tingkat suku bunga saat itu. Sebagian besar masyarakat Muslim belum terbiasa untuk menghindari pendapat tersebut dari kehidupan ekonomi mereka. Nampaknya tanpa adanya suku bunga proses bisnis tidak akan berjalan baik dan menguntungkan.

Beberapa keberatan adanya pranata bunga uang dikemukakan oleh para pendukung bank Islam. Bunga bank, menurut Mannan adalah riba, karena dalam Islam uang itu sendiri tidak menghasilkan bunga atau laba dan tidak dipandang sebagai komoditi. Dengan demikian, uang hanya sebagai alat transaksi, tidak lebih dari itu.  Sedangkan menurut Mahmud Ahmad Dari segi fungsi uang sebagai alat tukar, sehingga adanya sistem bunga dapat menyebabkan likuiditas uang. Jika bunga dibasmi maka premi likuiditas akan hilang dan motif untung-untungan untuk menyimpan uang akan lenyap. Di pihak lain, elastisitas substitusi uang adalah nol, sehingga suatu peningkatan dalam permintaan pasti meningkatkan nilai bunga. Kalau tidak dikatakan bahwa inflasi adalah konsekwensi bunga uang, tetapi bunga uang dinilai mempunyai andil dalam lajunya inflansi. Padahal ciri stabilitas ekonomi adalah terkendalinya inflasi. Dengan demikian, transaksi peminjaman “bebas bunga” ikut mengendalikan laju inflasi berdasarkan teori ini.

Komitmen dan Implementasi Bank Islam

Bank syariah adalah bank yang menjalankan bisnis perbankan dengan menganut sistem syariah yang berbasis hukum Islam. Dalam hukum Islam dinyatakan bahwa riba itu haram, sehingga bisnis bank konvensional yang menerapkan sistem rente atau riba dengan perhitungan bunga berbunga, baik untuk produk simpanan maupun pinjamannya, tidak sesuai dengan hukum islam.

Bank syariah tidak menerapkan sistem bunga tetapi menerapkan sistem bagi hasil, yaitu sistem pengelolaan dana dalam perekonomian Islam. Perhitungan bagi hasil didasarkan pada mufakat pihak bank bersama nasabah yang menginvestasikan dananya di bank syariah. Besarnya hak nasabah terhadap banknya dalam perhitungan bagi hasil tersebut, di tetapkan dengan sebuah angka ratio atau besaran bagian yang disebut Nisbah.

Penutup

Di masa depan diharapkan bank-bank syariah melakukan usaha percepatan dalam pengembangan dan perbaikan produk sesuai prinsip syariah, serta mengikuti perkembangan regulasi yang mengacu pada standar internasional. Kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses layanan perbankan syariah dan ketersediaan produk investasi syariah tidak akan optimal tanpa promosi dan edukasi yang memadai tentang lembaga keuangan syariah. Amat dibutuhkan pula jaminan produk yang ditawarkan patuh terhadap prinsip syariah. Oleh karena itu maka perbaikan-perbaikan dalam kegiatan praktek bisnis syariah dalam hal pelayanan maupun kegiatan-kegiatan investasi harus lebih digalakkan. Dengan demikian, insya Allah  bank Islam akan terus mengalami perkembangan.

Rujukan:

http://efa-mbem.blogspot.com/2013/04/makalah-keuangan-islam.html