Penetapan hukum Riba

Riba merupakan suatu tambahan dari suatu utang-piutang  karena ada penangguhan waktu.  Riba  biassanya berlipat ganda ketika  seseorang tidak mampu membayar pada waktu jatuh tempo  inilah yang dinamakan Riba Nasi’ah atau riba al qur’an.    Dalam qur’an jelas dikatakan bahwa semua riba, besar maupun kecil hukumnya adalah  Haram  ( QS. Al Baqarah:275-283).   Orang  Arab dahulu menganggap bahwa   riba  sama dengan  jual beli,  padahal Allah secara jelas menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Menurut M ali Al Shobuni  ada 4 tahapan dalam menetapkan hukum riba:
1.    Tahap awal
Terdapat dalam QS. Ar Rumm  ayat: 39
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang- orang yang melipat gandakan (pahalanya).
Dalam ayat tersebut  dikatakan bahwa harta yang peroleh dari  riba   tidak diberkahi,    riba belum ditetapkan halal/haram,  namun itu meupakan pengajaran secara pasif kepada kita agar tidak melakukan riba.

2.    Tahap ke dua
Pengajaran yang berupa sindiran (talbih)
Terdapat dalam  QS. An Nisa’  ayat 161
dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

3.    Tahap ketiga
Hukum haram riba telah jelas namun masih secara parsial
Terdapat dal QS. Ali Imran ayat 130
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda  dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

4.    Tahap keempat
Pengharaman secara keseluruhan bahwa semua riba besar atau kecil semuanya diharamkan.  Terdapat dalam QS. Al Baqarah:275-281
Barang siapa yang melakukan riba maka ia akan diperangi Allah dan RosulNya  serta akan mendapakan azab yang pedih di neraka dan mereka kekal didalamnya.
Marilah kita tinggalkan riba, karena riba  hanya akan menimbulkan  permusuhan dalam  lingkungan sosial.   Tagihlah utang sesuai dengan jumlha awal, jangan ditambah  beban dengan   bunga yang akan menyiksa mereka.    Berilah kelapangan bagi  mereka yang belum mampu membayar,  sesungguhnya akan lebih baik jika utang kita sodaqahkan  yang natinya akan menambah pahala kita dan  melipatkan rizki yang datang dari Allah.   Dan bagi yang memiliki hutang segerlah tunaikan janjimu,  karena Sabda nabi “ sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang baik dalam pembayaran hutangnya”.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s