Ambisi Nafsu

AMBISI NAFSU

Aku merenungkan seksama ambisi nafsu pada sesuatu yang terlarang.  Rupanya ia makin menguat seiring dengan makin menguatnya larangan.  Nabi Adam AS justru semakin bernafsu memakan buah khuldi setelah beliau dilarang memakannya, kendati  saat itu sangat banyak pohon lain yang buahnya bisa dimakan dan nikmat-nikmat.

Dalam sebuah peribahasa dikatakan, “Seseorang sangat bernafsu pada apa yang dilarang dan begitu berambisi pada apa yang belum didapatkan.”  Seorang cerdik pandai berkata, “ Andai manusia disuruh melaparkan diri tentu mereka akan bersabar, namun kalau mereka dilarang mengorat-arit kotoran hewan tentu mereka akan sangat menginginkaanya sambil mengatakan,’Kita dilarang melakukannya pasti ada sesuatu didalamnya.’”  Cerdik pandai lainnya mengatakan,”Sesuatu yang paling disenangi manusia adalah larangan.”

Sesudah memikirkan penyebabnya, ternyata ada dua hal:

Pertama, jiwa tak mampu bersabar ketika dikekang, sebab pengekanggannya didalam tubuh telah cukup merepotkannya.  Pengekangannya dalam bentuk lain membuat api ambisinya kian bergejolak.  Oleh sebab itu, kalau seseorang –dengan kemauan sendiri- tinggal dirumahnya selama sebulan pasti ia akan menganggapnya enteng.  Tapi jika ia dilarang keluar dari rumahnya selama sehari saja, maka tentu ia akan menganggapnya sangat lama.

Kedua, jiwa merasa berat dalam kekuasaan sesuatu.  Sehingga, ia pun menyukai sesuatu yang haram dan hampir-hampir tak punya ketertarikan pada hal yang mubah.  Ia juga merasa ringan melaksanakan ibadah yang dianggapnya baik dan disenanginya (walau tidak ada perintahnya), namun merasa berat dan tak menyenangi melaksanakan ibadah yang diperintahkan.

* Nasehat Ibnu  al-Jauzi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s