Menyikapi Musibah

Orang yang melakukan ketaatan kepada Allah SWT saat kondisi aman dan sentosa kukhawatirkan akan bergunjing saat menerima bencana, karena memang saat itulah saat ujian yang sebenarnya.

Allah “azza wa Jalla membangun namun sekaligus juga menghancurkan. Dia memberi juga merampas. oleh sebab itu, pada saat kehancuran dan perampasan, keteguhan hati dan ketaatan seseorang menjadi terlihat, dan orang yang selalu bergelimang dengan kenikmatan akan selalu melakukan ketaatan. sebab kenikmatan selalu menghampirinya. Namun bila musibah menimpa, ia menemukan kesulitan besar untuk bertahan.

Hasan Basri Ra mengatakan, “Manusia samaa saat memperoleh karunia, tetapi berbeda kala ditimpa bencana.”

Oleh sebab itu, orang cerdas adalah orang yang menyiapkan perbekalan dan memperbanyak simpanan guna menghadapi peperangan melawan bencana. Bencana pasti datang dan tak bisa dielakkan, dan kalau pun tidak datang di sepanjang kehidupan, ia pasti akan datang saat kematian menjelang, karena jika telah datang ia akan mengantarkan ke kekafiran. saat itu jiwa tak mempunyai sesuatu yang bisa melahirkan ridha dan kesabaran.

Beliau pernah mendengar orang yang dilihat sering melakukan kebaikan berkata pada malam kematiannya, ” Tuhanku, si A telah menzalimuku.”

Karena itu beliau selalu berada dalam kondisi penuh ketakutan dalam rangka mempersiapkan bekal untuk menghadapi saat yang mengerikan itu.

>> Telah diriwayatkan, ” Saaat orang akan meninggal, setan berkata pada balatentaranya, ‘Fokuskan gangguan kalian pada orang ini! Kalau kalian tak berhasil mengganggunya saat ini kalian tak akan lagi bisa mengganggunya untuk selama-lamanya!.”

->Hati siapa yang akan mampu bertahan saat napas sudah terhenti,  kerongkongan telah tersedak, nyawa akan dicabut, dan perpisahan dengan para kekasih ke tempat yang tidak iketahui akan segera terjadi?–

Semoga Allah SWT memelihara kita dari bahaya saat itu,  dan mudah-mudahan Dia menganugrahkan  kita kesabaran atau keridhaan dalam menghadapi bencana..

Semoga Pemilik Segala sesuatu memberi kita sebagian dari kedermawannan-Nya kepad para kekasih-Nya, sehingga pertemuan dengan-Nya lebih kita cintai dari kehidupan di dunia, dan kepasrahan kita kepada ketetapan-Nya lebih kita sukai dari pilihan kita sendiri.

Kita berlindung kepada Allah dari meyakini kesempurnaan usaha kita, sehingga saat kondisi tak berpihak pada kita,  kita pun marah pada takdir-Nya.  Keyakinan seperti ini merupakan kebodohan yang nyata dan kerugian yang sebenarnya.  Semoga Allah melindungi kita darinya…

Sumber: Shaid al Khatir- Al Jauzi. halaman 194-195.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s