Menyikapi Politik Uang

Pada Hakikatnya, semua pemberian yang berkaitan dengan pemilihan seorang pemimpin atau wakil rakyat termasuk dosa besar yang tidak akan diampuni. Karena itu, sangat menyesatkan sebuah spanduk besar yang bertuliskan, “Ambil uangnya, jangan pilih orangnya.”

Karena, mengambil uang seperti itu, kendati tidak memilih orang yang mencalonkan dirinya sebagai pemimpin adalah sesuatu yang diharamkan dalam agama.

Ada pelajaran penting dari Rasulullah SAW terkait pemilihan umum. Dalam hadis sahih, beliau bersabda, ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah SWT pada hari kiamat, tidak dirahmati, tidak diampuni dosanya, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih.

Pertama, orang berkelebihan air, namun tak mau memberikannya kepada musafir yang memerlukan atau makhluk lainnya.

Kedua, orang yang menjual barang dagangan sesudah Ashar dengan bersumpah menyebut nama Allah SWT agar pembeli tertarik, tetapi barang tersebut tidak sesuai dengan yang ia tawarkan.

Ketiga, orang yang membaiat pemimpin dan ia tidak membaiatnya, kecuali mendapat imbalan harta. Apabila ia diberi harta itu, ia memenuhi baiatnya dan apabila ia tidak diberi harta, ia tidak membaiatnya. (HR Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya, al-Musnad, Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka).

Menurut Imam Nawawi : apabila sebuah perbuatan diancam dengan hukuman, perbuatan itu termasuk yang menimbulkan dosa besar.

Karena itu, menerima uang dalam rangka memilih seorang pemimpin adalah perbuatan dosa besar yang dalam hadis itu dinyatakan tidak akan diampuni. Berdasarkan kaidah hukum Islam, sesuatu yang haram diambil, haram juga diberikan.

Maka, calon pemimpin (wakil rakyat) haram hukumnya memberikan uang kepada calon pemilih agar ia memilihnya. Sebaliknya, rakyat alias calon pemilih juga haram menerima imbalan (uang politik) dalam rangka memilih calon pemimpin itu.

Keharaman ini tidak main-main karena diancam dengan beberapa hukuman sangat berat. Maka, perbuatan yang berkaitan dengan uang politik itu, baik yang memberi maupun menerima, akan menerima konsekuensi berupa dosa besar yang tidak akan diampuni.

Dikutip dari artikel Prof Ali M Yaqub Repulika.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s