Sholat Jamak dan Qashar ‘Keringanan dalam Perjalanan Musafir’

Shalat Jamak dan Qasar merupakan suatu keringanan (rukhsah) yang diberikan Allah swt. kepada setiap umat Islam yang sedang kesulitan dalam menjalankan ibadah shalat, seperti seseorang musafir (dalam perjalanan), terancam jiwanya, hartanya, atau kehormatannya. Untuk mengetahui lebih jauh pembahasan mengenai shalat Jamak dan Qasar serta shalat dalam keadaan darurat, berikut ini….

SHOLAT JAMA’
Shalat yang digabungkan, yaitu mengumpulkan dua shalat fardhu yang dilaksanakan dalam satu waktu. Misalnya, shalat dzuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur atau pada waktu Ashar. Shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib atau pada waktu Isya’.

Sedangkan Subuh tetap pada waktunya dan tidak boleh digabungkan dengan shalat lain. Shalat Jama’ ini boleh dilaksankan karena bebrapa alasan (halangan) berikut ini :
a. Dalam perjalanan yang bukan untuk maksiat
b. Apabila turun hujan lebat
c. Karena sakit dan takut
d. Jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni kurang lebihnya 81 km. (begitulah yang disepakati oleh sebagian Imam Madzhab sebagaimana disebutkan dalam kitab AL-Fikih, Ala al Madzhabhib al Arba’ah, sebagaimana pendapat para ulama madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali.)

Tetapi sebagian ulama lagi berpendapat bahwa jarak perjalanan (musafir) itu sekurang-kurangnya dua hari perjalanan kaki atau dua marhalah, yaitu 16 (enam belas) Farsah, sama dengan 138 (seratus tiga puluh delapan) km.

Menjama’ shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya, baik musafir atau bukan dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur, jadi dilakukan ketika diperlukan saja. (lihat Taudhihul Ahkam, Al Bassam 2/308-310 dan Fiqhus Sunnah 1/316-317).

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa qashar shalat hanya disebabkan oleh safar (bepergian) dan tidak diperbolehkan bagi orang yang tidak safar. Adapun jama’ shalat disebabkan adanya keperluan dan uzur. Apabila seseorang membutuhkannya (adanya suatu keperluan) maka dibolehkan baginya melakukan jama’ shalat dalam suatu perjalanan jarak jauh maupun dekat, demikian pula jama’ shalat juga disebabkan hujan atau sejenisnya, juga bagi seorang yang sedang sakit atau sejenisnya atau sebab-sebab lainnya karena tujuan dari itu semua adalah mengangkat kesulitan yang dihadapi umatnya.” (Majmu’ al Fatawa juz XXII hal 293)

Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama’ shalatnya adalah musafir ketika masih dalam perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan (HR. Bukhari, Muslim), turunnya hujan (HR. Muslim, Ibnu Majah dll), dan orang sakit. (Taudhihul Ahkam, Al Bassam 2/310, Al Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi Al Khalafi 139-141, Fiqhus Sunnah 1/313-317).

Berkata Imam Nawawi Rahimahullah : ”Sebagian Imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang mukim boleh menjama’ shalatnya apabila diperlukan asalkan tidak dijadikan sebagai kebiasaan.” (lihat Syarah Muslim, imam Nawawi 5/219 dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141).

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjama’ antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di Madinah tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan). Ketika ditanya hal itu kepada Ibnu Abbas beliau menjawab : ”Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak ingin memberatkan umatnya.” (HR.Muslim dll. Lihat Sahihul Jami’ 1070).

Shalat jama’ dapat dilaksanakan dengan 2 (dua) cara :
1. Jama’ Taqdim (Jama’ yang didahulukan) yaitu menjama’ 2 (dua) shalat dan melaksanakannya pada waktu shalat yang pertama. Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu Dzuhur atau shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib.

Syarat Sah Jama’ Taqdim ialah:
a. Berniat menjama’ shalat kedua pada shalat pertama
b. Mendahulukan shalat pertama, baru disusul shalat kedua
c. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk, iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting

2. Jama’ Ta’khir (Jamak yang diakhirkan), yaitu menjamak 2 (dua) shalat dan melaksanakannya pada waktu shalat yang kedua. Misalnya, shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu Ashar atau shalat Maghrib dan shalat Isya’ dilaksanakan pada waktu shalat Isya’.

Syarat Sah Jama’ Ta’khir ialah:
a. Niat (melafazhkan pada shalat pertama) yaitu : ”Aku ta’khirkan shalat Dzuhurku diwaktu Ashar.”
b. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk, iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting.

NOTE :
Dalam Jama’ ta’khir tidak disyaratkan mendahulukan shalat pertama atau shalat kedua. Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar boleh mendahulukan Ashar baru Dzuhur atau sebaliknya. Muadz bin Jabal menerangkan bahwasanya Nabi SAW dipeperangan Tabuk, apabila telah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau kumpulkan antara Dzuhur dan Ashar dan apabila beliau ta’khirkan shalat Ashar. Dalam shalat Maghrib begitu juga, jika terbenam matahari sebelum berangkat, Nabi SAW mengumpulkan Maghrib dengan Isya’ jika beliau berangkat sebelum terbenam matahari beliau ta’khirkan Maghrib sehingga beliau singgah (berhenti) untuk Isya’ kemudian beliau menjama’kan antara keduanya.

Shalat yang Boleh Dijamak dan Diqasar

Menurut sunah Rasulullah saw., shalat yang boleh dijamak ialah shalat Dhuhur dengan shalat Asar dan shalat Maghrib dengan shalat Isya. Shalat Subuh tidak boleh dijamak sehingga shalat Subuh harus dilaksanakan secara terpisah dari shalat lain. Jadi, shalat Subuh tetap dilaksanakan pada waktunya.

Adapun shalat yang boleh diqasar adalah shalat yang jumlah rakaatnya empat. Dengan demikian. shalat maghrib dan Subuh tidak boleh diqasar. Shalat Maghrib dan Subuh tetap dilakukan tiga rakaat dan dua rakaat.

Syarat Shalat Jamak dan Qasar

Setiap oleng Islam diperbolehkan menjamak shalat apabila terpenuhi syarat sebagai berikut

a. Sebagai Musafir atau Sedang Bepergian

b. Dalam Keadaan Tertentu, seperti Turun Hujan Lebat

c. Keadaan Sakit

d. Ada Keperluan Penting Lainnya

Sungguhpun Islam memberi keringanan dalam pelaksanaan shalat fardhu sebagaimana di atas, hendaknya kita tidak mempermudah untuk menjamak atau mengqasar shalat jika tidak ada alasan yang dapat dibenarkan. Mengenai syarat sah mengqasar shalat, para ulama berbeda paham. Tidak kurang dari dua puluh pendapat dalam hal ini. Sementara itu, ada ulama yang menetapkan bahwa diperbolehkannya mengqasar shalat ialah jika bepergiannya sejauh tiga mil lebih. Adapun jalan yang paling selamat dalam hal mengqasar shalat ialah mengembalikan masalah ini pada Al Qur’an Surat An Nisa’ ayat 110.

Shalat Jamak Qashar

Shalat Jamak Qashar adalah dua shalat fardu yang dikerjakan secara berurutan dalam satu waktu dan jumlah rakaatnya diringkas. Apabila dikerjakan pada waktu shalat yang awal, disebut shalat Jamak Qashar Takdim. Apabila dikerjakan pada waktu shalat yang akhir, disebut shalat Jamak Qashar Takhir.

a. Shalat Jamak Takdim dengan Qashar

1) Shalat Dhuhur dan Asar

Cara mengerjakannya, yaitu shalat Dhuhur dua rakaat kemudian dilanjutkan shalat Asar dua rakaat. Shalat Dhuhur dan Asar ini dikerjakan pada waktu dhuhur. Bacaan dari gerakannya seperti shalat Dhuhur dan Asar, yang berbeda hanya niatnya.

2) Shalat Maghrib dan Isya

Cara mengerjakannya, yaitu shalat Maghrib dahulu tiga rakaat, kemudian dilanjutkan shalat Isya dua rakaat. Salam Maghrib dan Isya ini dikerjakan pada waktu maghrib. Bacaan dan gerakannya seperti shalat Maghrib dan Isya yang biasa kita terjakan, yang berbeda hanya niatnya.

b. Shalat Jamak Takhir dengan Qashar

Shalat Jamak Takhir dengan qasar adalah shalat Dhuhur dan Asar. Cara mengerjakannya adalah shalat Dhuhur dahulu dua rakaat, kemudian dilanjutkan shalatAsar dua rakaat. Shalat Dhuhur

danAsar ini dikerjakan pada waktu asar. Gerakan dan bacaannya seperti shalat Dhuhur dan Asar yang biasa kita kerjakan, yang berbeda hanya niatnya.

Referensi: Diolah dari berbagai sumber.

Iklan

FILOSOFI SHOLAT FARDHU

Shalat adalah ibadah utama seorang muslim. Tanpa shalat maka kemusliman seseorang dipertanyakan. Shalat adalah penghambaan dan pengabdian kita kepada Allah swt. Sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dalam Surat Adzariyat ; 56 Allah swt berfirman “ Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. Allah swt adalah Sang Maha Pencipta, Dialah Yang menghidupkan dan mematikan kita. Dia juga yang memberikan rezki dan karunia yang amat banyak kepada kita. Oleh karena itu sangat pantas kiranya kita bersyukur kepada-Nya. Realisasi syukur itu salah satunya dengan beribadah kepada-Nya, terutama ibadah shalat.

ASAL MULA SHALAT 5 WAKTU

Shalat adalah ibadah terpenting bagi seorang muslim. Shalat menjadi tolak ukur kesalehan seseorang. Bahkan shalat merupakan amal kunci bagi segala amal lainnya. Meski demikian jarang sekali orang mengerti bahwa masing-masing waktu shalat yang lima itu mengandung hikmah dan memiliki sejarah masing-masing.

SHALAT SUBUH

Ketika Nabi Adam diturunkan ke dunia diwaktu malam, beliau merasa takut. Ia dan Siti Hawa tidak diturunkan di satu tempat yang sama. Siti Hawa di Jeddah Saudi Arabia, sedangkan Nabi Adam di bukit Ruhun di pulau Sailan atau kini dinamakan Sailandra. Setelah fajar terbit, Nabi Adam ‘Alaihi Sallam. sujud syukur dua kali sujud kehadirat Allah. Itulah sebabnya sholat subuh dua raka’at mengingatkan akan Nabi Adam ‘Alaihi Sallam sebagai orang yang pertama sujud di muka bumi.

Dua rakaat Subuh dijalankan oleh Nabi Adam di bumi setelah diturunkan dari surga. Waktu itu pertama kalinya Nabi Adam melihat kegelapan. Begitu gelapnya sehingga ia merasakan ketakutan yang amat sangat. Namun kemudian kegelapan itu secara lamban mulai sirna mengusir rasa takut, dan perlahan terbitlah terang. Itulah pergantian waktu malam menuju pagi. Oleh karenanya, dua rakaat Subuh dilaksanakan sebagai rasa syukur atas sirnanya kegelapan pengharapan atas datangnya kecerahan.

Sujud pertama karena telah hilang rasa takutnya sebab gelapnya malam, Baca lebih lanjut

Semoga Ramadhan ini menjadi Ramadhan Terbaikku

Syukur Alhamdulillah,  kita masih diberikan kesempatan berjumpa dengan bulan ramadhan tahun ini.   Senang dan duka dalam menyambutnya.  Senang karena dapat berjumpa dengan bulan ramadhan yang mulia ini, artinya kita masih diberikan Allah kesempatan untuk memperbanyak tabungan ilmu dan amal yang kita bawa menuju syurganya.  Sedangkan rasa sedih mungkin karena ada sosok yang mungkin ramadhan tahun lalu kita masih bersama, tetapi ramadhan kali ini kita sudah berpisah dengannya.

Mari kita isi bulan Ramadhan tahun ini dengan banyak meningkatkan Ilmu dan Amal, dalam rangka meraih ridho-Nya!

Setelah berbagai persiapan kita lakukan di bulan sya’ban, kini adalah saatnya kita untuk  mengarungi bulan yang penuh berkah ini, bulan yang didalamnya pahala dilipatgandakan, syetan-syetan dibelenggu, majelis-majelis ilmu dimana-mana, kajian keislaman  dan masjid-masjid yang ramai, sehingga mampu memberi  motivasi kepada  kita untuk memperbanyak ibadah di bulan ramadhan yang mulia ini.

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana ummat muslim diperintahkan untuk menunaikan kewajiban berpuasa; menahan dari makan dan minum dari fajar sampai terbenamnya matahari.  Di Bulan ramdahan ada 2 peristiwa besar yang terjadi yaitu turunnya al Qur’an dan kemenangan kaum muslim pada perang badar.  Pada malam di bulan ramadhan juga ada malam yang mulia, malam yang lebih mulia dari 1000 bulan yaitu lailatul qadr.

Amalan-amalan pokok pada saat bulan Ramadhan diantaranya sebagai berikut: Berpuasa, sholat malam (terawih), sholat wajib berjamaah di masjid, memperbanyak sedekah, mengikuti majelis-majelis ilmu, memberi makanan berbuka kepada orang berpuasa, serta berbagai perbuatan baik lainya.

Puasa yang dijalankan dengan baik dan benar maka target takwa akan diraihnya, jika takwa mampu diraih maka ia akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akherat.  Berikut adalah orang-orang yang  memperoleh derajat (maqam) mutakkin:

1. Derajat takwa adalah derajat yang mulia disisi Allah.

2. Mendapat perlindungan dari Allah

3. Mendapat solusi yang solutif

4.  mendapat rezeki yang tidak disangka-sangka

5. ditingkatkannya amalan saleh dan dosanya diampuni Allah

6. mendapatkan Rahmat dan cahayanya

7. Diterima amal perbuatannya

8. Memiliki martabat yang mulia

9. Diselamatkan dari api neraka

10. Dicintai Allah

11. Hidup tanpa kesedihan dan kegelisahan

12. Mendapat pengajaran langsung dari-Nya

13. mendapat balasan Syurga

14. Allah selalu menyertainya

15.  mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil

16. dimudahkan urusannya

17. berkata yang baik, benar, dan bermakna.

 

Dalam puasa terkandung ribuan hikmah  yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman.  Tidak mengherankan jika puasa menjadi kebiasaan para nabi terutama Rasulullah SAW,  para sahabatnya,  serta orang-orang saleh  yang ingin mendapatkan manfaat dan hikmah dari ibadah puasa tersebut.

#Puasa adalah dalam rangka menghara ridho  Allah,  maka kesadaran keimanan harus selalu dihadirkan dalam hati untuk menunaikan ibadah ini.  sebab tan kesadaran  keimanan puasa yang dilaksanakan tidak memiliki nilai apa-apa, kecuali haus dan lapar.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 🙂

Mohon maaf lahir dan batin….

Menjamak Shalat karena terjebak macet; Bolehkah

Jika memang benar-benar tidak memungkinkan maka, silakan menjamak shalat Maghrib dengan Isya sesuai ketentuan-ketentuan menjamak shalat

Pertanyaan:
Saya pekerja swasta di Jakarta, yang tinggal di Depok. Saya hampir setiap hari pulang sekitar jam 16.00 sore. Karena macet saya sering sampai di rumah setelah azan Isya dan belum shalat Maghrib. Saya tidak bisa menunda pulang setelah Maghrib karena sampainya di rumah akan terlalu malam.

Apakah saya berdosa? Apakah saya bisa menjamak shalat padahal jarak Jakarta-Depok sekitar 30 kilometer dan belum memenuhi kriteria jamak-qashar? Atau saya cukup mengqadha shalat Maghrib bersamaan dengan shalat Isya? Mohon jawaban dan sarannya.

Jawaban:
Shalat Fardlu adalah ibadah yang sangat istimewa. Shalat Fardlu merupakan ibadah yang memiliki batas waktu tertentu dalam pelaksanaannya dan harus ditunaikan sesuai waktu yang ditentukan dalam keadaan apa pun selama kita masih dalam keadaan sadar (tidak gila, epilepsi, dan lain-lain). Dan untuk wanita, tidak haidh/nifas.

Pertanyaan Anda sudah pernah dibahas dalam bahtsul masail di PCNU Jakarta Selatan, tahun 2010 lalu. Bahwa menjamak shalat karena macet sementara jarak tempuh hanya 30 kilometer tidak mencapai masafatul qashri (jarak yang membolehkan untuk meng-qashar shalat) diperbolehkan dalam keadaan tertentu atau dalam kondisi sangat sulit atau masyaqqah.

Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 77 disebutkan, “Kami berpendapat boleh menjamak shalat bagi orang yang menempuh perjalanan singkat yang telah dipilih oleh Syekh Albandaniji. Sebuah hadis dengan jelas memperbolehkan melakukan shalat jamak bagi orang yang bukan musafir sebagaimana yang tercantum dalam Syarah Muslim. Alkhatthabi menceritakan  dari Abu Ishak tentang bolehnya menjamak shalat dalam perjalanan singkat karena suatu keperluan/hajat meskipun tidak dalam kondisi keamanan terancam, hujan lebat, dan sakit. Ibnul Munzir juga memegang pendapat ini.”

Namun, untuk lebih hati-hati, ada baiknya mengatur waktu agar shalat fardlu terlaksana dengan sempurna. Jika dalam perjalanan memungkinkan berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat, maka lakukanlah untuk mendapat kesempurnaan shalat.

Sebenarnya, ketika dalam perjalanan, shalat bisa dilakukan di dalam kendaraan (mobil atau angkutan umum) dalam keadaan duduk, di mana sujud dan rukuk cukup dengan menundukkan kepala; posisi sujud lebih rendah dari pada rukuk.

Jika memang benar-benar tidak memungkinkan maka, silakan menjamak shalat Maghrib dengan Isya sesuai ketentuan-ketentuan menjamak shalat.Wallahu’alam.

Sumber: Republika

Menggapai Keberkahan Rizki

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Dua orang yang saling berjual beli memiliki khiyar (hak memilih) selama mereka sebelum berpisah. Apabila mereka jujur dan memberikan penjelasan (terus terang dalam muamalah mereka), mereka akan diberi berkah dalam jual beli mereka. Dan apabila mereka menyembunyikan kekurangan dan berdusta, maka berkah akan terhapus dari jual beli mereka.” (HR. Abu Daud).

Jual beli merupakan refresentasi dari semua transaksi ekonomi dan bisnis, baik dalam skala kecil maupun besar, pribadi maupun perusahaan bahkan antara pemerintahan.

Kejujuran akan mendatangkan keberkahan. Kecurangan merupakan bukti keserakahan yang akan melenyapkan keberkahan.   Keberkahan bersumber dari rezki yang diperoleh melalui jalan yang halal (benar dan baik). Banyaknya perolehan harta dan tingginya kedudukan tidak menjadi ukuran.

Iman dan takwa sebagai pondasi. Kecintaan kepada ulama sebagai lampu yang menyinari. Transaksi bisnis (pekerjaan) dibingkai akhlak terpuji. Insya Allah hidup kita pun diberkahi.

Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.7:96)
Dalam rangkaian ayat-ayat A-Qur’an al-Karim, kita temukan kata barokahdalam berbagai derivasinya. Misalnya, Al-Quran diturunkan pada malam yang diberkahi (QS.6:92,21:50,38:29), Baitullah adalah Rumah yangdiberkahi (3:96), ada pula tempat-tempat yang diberkahi(17:1,28:30,34:18).

Berkah berasal dari kata barokah (jamak: barokaat) yang menurut Prof Dr M Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah bermakna sesuatu yang mantap, kebajikan yang melimpah dan beraneka ragam serta bersinambung.

Keberkahan Ilahi datang dari arah yang seringkali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau bahkan diukur.

Segala penambahan yang tidak terukur oleh indra dinamaibarokah/berkah. Adanya berkah pada sesuatu berarti adanya kebajikan yang menyertai sesuatu itu.

Rezki berkah akan melahirkan keluarga yang berkualitas, tenang, rukun dan saling menyayangi. Anak dan istri atau suami taat beribadah dan berakhlak karimah. Senang berbagi nikmat kepada orang lain yang membutuhkan.

 

FIQH MUNAKAHAT

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam dan satu-satunya layak untuk disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Menunda-nunda menikah bisa merugi. Berikut penjelasan yang bagus dari ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan -hafizhohullah- yang kami kutip dari Web Sahab.net (arabic).
1. Faedah pertama: Hati semakin tenang dan sejuk dengan adanya istri dan anak.
2. Bersegera nikah akan mudah memperbanyak umat ini

Menikah adalah ketetapan Allah untuk manusia yang seharusnya mereka jalani. Ia bukan semata-mata khayalan. Menikah termasuk salah pintu mendatangkan kebaikan bagi siapa yang benar niatnya. Dengan menikah kita akan semakin mudah mendapatkan kebaikan dan keberkahan.

BAGIAN 1
MUQADDIMAH

PENGERTIAN NIKAH
secara bahasa : kumpulan, bersetubuh, akad.
secara syar’i : dihalalkannya seorang lelaki dan untuk perempuan bersenangg-senang, melakukan hubungan seksual, dll .

HIKMAH NIKAH
Islam tidak mensyari’atkan sesuatu melainkan dibaliknya terdapat kandungan keutamaan dan hikmah yang besar. Demikian pula dalam nikah, terdapat beberapa hikmah dan maslahat bagi pelaksananya :
1. Sarana pemenuh kebutuhan biologis (QS. Ar Ruum : 21)
2. Sarana menggapai kedamaian & ketenteraman jiwa (QS. Ar Ruum : 21)
3. Sarana menggapai kesinambungan peradaban manusia (QS. An Nisaa’ : 1, An Nahl : 72)
Rasulullah berkata : “Nikahlah, supaya kamu berkembang menjadi banyak. Sesungguhnya saya akan membanggakan banyaknya jumlah ummatku.” (HR. Baihaqi)
4. Sarana untuk menyelamatkan manusia dari dekadensi moral.
Rasulullah pernah berkata kepada sekelompok pemuda : “Wahai pemuda, barang siapa diantara kalian mampu kawin, maka kawinlah. Sebab ia lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Namun jika belum mampu, maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu sebagai wija’ (pengekang syahwat) baginya.” (HR Bukhari dan Muslim dalam Kitab Shaum) Baca lebih lanjut

Kesehatan Tubuh dan ibadah sholat

Selama ini sholat yang kita lakukan lima kali sehari, sebenarnya telah memberikan investasi kesehatan yang cukup besar bagi kehidupan kita. Mulai dari berwudlu ( bersuci ), gerakan sholat sampai dengan salam memiliki makna yang luar biasa hebatnya baik untuk kesehatan fisik, mental bahkan keseimbangan spiritual dan emosional. Tetapi sayang sedikit dari kita yang memahaminya. Berikut rangkaian dan manfaat kesehatan dari rukun Islam yang kedua ini.

Manfaat Wudlu Kulit merupakan organ yang terbesar tubuh kita yang fungsi utamanya membungkus tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai ancaman kuman, racun, radiasi juga mengatur suhu tubuh, fungsi ekskresi ( tempat pembuangan zat-zat yang tak berguna melalui pori-pori ) dan media komunikasi antar sel syaraf untuk rangsang nyeri, panas, sentuhan secara tekanan.
Begitu besar fungsi kulit maka kestabilannya ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban. Bersuci merupakan salah satu metode menjaga kestabilan tersebut khususnya kelembaban kulit. Kalu kulit sering kering akan sangat berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudah terinfeksi kuman.

Dengan bersuci berarti terjadinya proses peremajaan dan pencucian kulit, selaput lendir, dan juga lubang-lubang tubuh yang berhubungan dengan dunia luar (pori kulit, rongga mulut, hidung, telinga). Seperti kita ketahui kulit merupakan tempat berkembangnya banya kuman dan flora normal, diantaranya Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Mycobacterium sp (penyakit TBC kulit). Begitu juga dengan rongga hidung terdapat kuman Streptococcus pneumonia (penyakit pneumoni paru), Neisseria sp, Hemophilus sp.Seorang ahli bedah diwajibkan membasuh kedua belah tangan setiap kali melakukan operasi sebagai proses sterilisasi dari kuman. Cara ini baru dikenal abad ke-20, padahal umat Islam sudah membudayakan sejak abad ke-14 yang lalu. Luar Biasa!! Baca lebih lanjut

Qurban Wujud Pengorbanan

Qurban dalam istilah fikih adalah Udhiyyah (الأضحية) yang artinya hewan yang disembelih waktu dhuha, yaitu waktu saat matahari naik. Secara terminologi fikih, udhiyyah adalah hewan sembelihan yang terdiri onta, sapi, kambing pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasriq untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kata Qurban artinya mendekatkan diri kepada Allah, maka terkadang kata itu juga digunakan untuk menyebut udhiyyah.

Mempersembahkan persembahan kepada tuhan-tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejaka lama. Dalam kisah Habil dan Qabil yang disitir al-Qur’an disebutkan Qurtubi meriwayatkan bahwa saudara kembar perempuan Qabil yang lahir bersamanya bernama Iqlimiya sangat cantik, sedangkan saudara kembar perempuan Habil bernama Layudza tidak begitu cantik. Dalam ajaran nabi Adam dianjurkan mengawinkan saudara kandung perempuan mendapatkan saudara lak-laki dari lain ibu. Maka timbul rasa dengki di hati Qabil terhadap Habil, sehingga ia menolak untuk melakukan pernikahan itu dan berharap bisa menikahi saudari kembarnya yang cantik. Lalu mereka sepakat untuk mempersembahkan qurban kepada Allah, siapa yang diterima qurbannya itulah yang akan diambil pendapatnya dan dialah yang benar di sisi Allah. Qabil mempersembahkan seikat buah-buahan dan habil mempersembahkan seekor domba, lalu Allah menerima qurban Habil. Baca lebih lanjut

Melaksanakan Ibadah Haji

Berhaji di Jalan Allah

penulis Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi.
Syariah Tafsir 19 – Desember – 2006 20:12:50

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجِّ عَمِيْقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيْمَةِ اْلأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيْرَ. ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Dan berserulah kepada manusia utk mengerjakan haji niscaya mereka akan datang kepadamu dgn berjalan kaki dan mengendarai unta yg kurus yg datang dari segenap penjuru yg jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yg telah ditentukan atas rizki yg Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. mk makanlah sebahagian daripada dan berikanlah utk dimakan orang2 yg sengsara lagi fakir. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yg ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yg tua itu .”

Allah berfirman dalam QS Al Hajj 26-27:

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”
Nabi Ibrahim berkata kepada Allah Taala, “Wahai Tuhan! Bagaimana suaraku akan sampai?”
Hukum Menunaikan Ibadah Haji
Di dlm ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg mulia ini dijelaskan ada perintah utk mengumumkan kepada seluruh manusia agar mereka menunaikan ibadah haji ke Baitullah Al-Haram sebagai pelanjut dari syariat yg telah diajarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Ibrahim Khalilullah ‘alaihissalam. Sebagaimana dlm firman-Nya:

قُلْ صَدَقَ اللهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah: ‘Benarlah Allah.’ mk ikutilah agama Ibrahim yg lurus dan bukanlah dia termasuk orang2 yg musyrik.”
Oleh krn itu para ulama telah bersepakat tentang wajib berhaji sekali dlm seumur hidup berdasarkan Al-Qur‘an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah dinukil ijma’ tersebut oleh para ulama di antara Ibnu Qudamah dlm Al-Mughni dan An-Nawawi dlm kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab .
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami lalu bersabda: “Wahai sekalian manusia sungguh telah diwajibkan atas kalian haji mk berhajilah!”
Maka seseorang berkata: “Apakah tiap tahun wahai Rasulullah?” Beliau terdiam sampai orang tersebut berta sebanyak tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menjawab: “Kalau aku menjawab ya mk akan menjadi wajib dan niscaya kalian tdk mampu.” Lalu beliau bersabda:

ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلىَ أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

“Biarkanlah apa yg aku tinggalkan utk kalian sesungguh binasa orang2 sebelum kalian adl krn terlalu banyak berta dan menyelisihi para nabi mereka. Jika aku perintahkan kalian terhadap sesuatu mk kerjakanlah semampu kalian dan jika aku melarang kalian dari sesuatu mk tinggalkanlah.”

Manfaat Ibadah Haji
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa di antara hikmah menunaikan ibadah haji adl agar mereka memperoleh manfaat dari ibadah tersebut. Manfaat itu bersifat umum meliputi manfaat agama maupun duniawi. Oleh karena telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata dlm menafsirkan manfaat dlm ayat ini: “Berbagai manfaat dunia dan akhirat. Adapun manfaat akhirat adl mendapat keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun manfaat dunia adl apa yg mereka dapatkan berupa daging unta sembelihan dan perdagangan.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dlm Sunan- dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Kaum muslimin saat pertama kali berhaji mereka dahulu berjual beli di Mina ‘Arafah di pasar Dzul Majaz dan pada musim haji. mk merekapun takut berjual beli dlm keadaan mereka sedang berihram hingga turunlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu utk mencari karunia dari Rabbmu.” (HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dlm Shahih Abu Dawud no. 1734)
Ini berkenaan dgn manfaat duniawi.
Adapun manfaat ukhrawi barangsiapa yg menjalankan dgn ikhlas dan mengharapkan ridha serta ampunan-Nya mk ia mendapatkan pahala yg berlipat ganda dan dihapuskan dosa-dosanya.
Dalam riwayat Al-Imam Muslim dari hadits ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu ketika ia baru masuk Islam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Apakah engkau tdk tahu bahwa Islam menghapuskan apa yg telah lalu dan bahwa hijrah menghapuskan apa yg telah lalu dan haji menghapuskan apa yg telah lalu .”
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yg berhaji krn Allah lalu dia tdk berbuat keji dan tdk berbuat kefasikan mk dia kembali sebagaimana hari dia dilahirkan oleh ibu .”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

“Antara umrah yg satu menuju umrah yg berikut adl penghapus dosa di antara kedua dan haji yg mabrur tdk ada balasan kecuali syurga.”
Sehingga menunaikan ibadah haji merupakan kesempatan besar utk berbekal dgn bekal akhirat dgn bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kembali kepada-Nya menuju kepada ketaatan-Nya dan bersegera menggapai keridhaan-Nya. Di sela-sela menunaikan amalan haji seseorang hendak bersiap-siap utk mendapatkan kesempatan yg banyak dlm menimba berbagai pelajaran yg bermanfaat dan ibrah yg memberi pengaruh. Juga berbagai faedah yg agung dan hasil yg mulia baik dlm aqidah ibadah dan akhlak. Dimulai dgn amalan haji yg pertama dikerjakan oleh seorang hamba ketika di miqat hingga amalan yg terakhir yaitu Thawaf Wada’ sebanyak tujuh kali sebagai tanda perpisahan dgn Baitullah Al-Haram.