HIKMAH DAN PESAN MORAL RAMADHAN

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dalam kehidupan ini…Lembaran yang putih, bersih, jernih, bening, bersinar dan bercahaya…

Ramadhan…Bulan Pendidikan Ruhaniah

Ramadhan mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah. Dengan puasa kita menjadi orang yang paling dicintai Allah. Puasa melatih kita meninggalkan sikap egois kita dan bukan memperkuatnya. Puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan, dapat memenuhi kebutuhan spiritual kita. Sebuah penelitian di Barat menyebutkan bahwa orang yang berpuasa akan lebih tajam pikirannya sehingga mampu menangkap pesan-pesan moral wahyu Ilahi baik melalui ayat2 kauniyah maupun kauliyah.

Puasa Adalah Bukti Iman dan Cinta Kepada Allah

Puasa adalah ibadah kepada Allah, yaitu seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan perkara-perkara yang disukai, dicintai dan diinginkannya daripada makanan, minuman dan syahwat hawa nafsu sehingga tampak jelas kejujuran imannya, kesempurnaan penghambaannya kepada Allah dan kekuatan cintanya serta pengharapannya atas apa yang ada di sisiNya. Seseorang tidak mungkin meninggalkan apa yang dicintainya kecuali disebabkan sesuatu yang lebih agung baginya dari apa yang ditinggalkannya tersebut.    Seorang mukmin rela meninggalkan syahwat nafsu yang dicintainya dan sangat diinginkannya demi untuk mendapatkan ridha Rabbnya karena ia meyakini bahwasanya ridha Allah ada dalam berpuasa.

 

 

Meraih Takwa Dengan Puasa

Diantara tujuan puasa adalah agar seseorang mencapai tingkatan takwa sebagaimana firman Allah Ta’aala: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Orang yang bertakwa adalah orang yang mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Orang yang berpuasa diperintahkan untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.  Orang yang berpuasa apabila terlintas dalam dirinya keinginan untuk berbuat kemaksiatan, ia segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia-pun segera menghindari kemaksiatan tersebut. Orang yang sedang berpuasa tidak akan membalas kebodohan dengan kebodohan dan caci maki dengan caci maki, ia sadar bahwa orang yang berpuasa harus sanggup menguasai diri dan emosinya.

Dengan Puasa Hati Jernih Untuk Berpikir dan Berdzikir

Diantara hikmah puasa adalah agar supaya hati kita jernih untuk berpikir dan berdzikir karena banyak makan minum serta memuaskan syahwat menyebabkan kelalaian dan adakalanya hati menjadi keras dan buta dari kebenaran karenanya.   Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang anak adam itu memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari pada perut. Cukuplah bagi seseorang makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa harus menambahnya, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya.”  (HR. Imam Ahmad dll).

Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam -Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.  Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani –Rahumahullah: “Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya.”

Puasa Menumbuhkan Kepedulian

Dengan berpuasa, orang kaya akan menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya berupa kekayaan dan kecukupan sehingga dia tidak pernah kekurangan makan, minum, menikah dan lainnya, padahal banyak orang yang tidak mendapatkan dan merasakan nikmat seperti itu.

Dengan demikian orang kaya tersebut akan memuji Allah dan bersyukur kepadaNya atas kemudahan yang diberikan kepadanya. Orang kaya tersebut juga teringat saudaranya yang fakir miskin, yang adakalanya merasakan kelaparan sepanjang hari dan malam karena ketidakmampuannya. Hal ini menjadikan orang kaya tersebut terdorong dan termotivasi untuk membantunya dengan bershadaqah agar terpenuhi kebutuhannya berupa sandang, pangan dan papan.

Oleh karena inilah, Rasululah SAW adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanan Beliau bertambah ketika datang bulan Ramadhan, yaitu ketika berjumpa Malaikat Jibril AS yang mengajarkan kepada Beliau Al-Qur’an.

 

 

 

Puasa Latihan Menundukkan dan Menguasai Hawa Nafsu

Diantara hikmah puasa adalah latihan menundukkan dan menguasai hawa nafsu sehingga benar-benar tunduh dan patuh untuk dikendalikan dan diarahkan menuju kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan. Karena pada dasarnya nafsu selalu mengajak kepada keburukan kecuali yang dirahmati Allah.  Apabila nafsu dilepaskan dan tidak dikendalikan pasti akan menjerumuskan seseorang ke dalam kehinaan, kebinasaan dan kesengsaraan. Namun, apabila dikendalikan dan ditundukkan pasti seseorang akan mampu membawanya menuju derajat dan kedudukan yang tinggi lagi mulia.

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat: 37-41).  “dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas (kacau dan sia-sia).” (QS. Al-Kahfi: 28).

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib –Radhiallahu ‘Anhu mengatakan: “Medan pertama yang harus kamu hadapi adalah nafsumu sendiri. Jika kamu menang atasnya maka terhadap yang lainnya kamu lebih menang. Dan jika kamu kalah dengannya maka terhadap yang lainnya kamu lebih kalah. Karena itu, cobalah kamu berjuang melawannya dahulu.”

Puasa Mempersempit Ruang Gerak Syetan

Lapar dan haus akan mempersempit aliran darah sehingga menjadi sempit pula ruang gerak syetan di tubuh kita karena syetan mengalir di tubuh kita seperti atau bersama aliran darah.   Dalam hadis tersebut Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjadikan berpuasa sebagai sarana untuk mengurangi dan menghancurkan nafsu syahwat. Inilah rahasia  mengapa orang yang berpuasa mudah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Puasa Menghancurkan Kesombongan

Puasa yang dilakukan dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam mampu menghancurkan nafsu-nafsu jahat dan meruntuhkan kesombongan sehingga menjadi tunduk kepada kebenaran dan rendah hati kepada sesama, karena banyak makan, minum dan berhubungan suami isteri membawa kepada sifat sombong, congkak, mau menang sendiri dan merasa tinggi atas orang lain dan tidak mau menerima kebenaran.  Jadi, diantara hikmah puasa adalah menghancurkan kesombongan sehingga seseorang menjadi tawadhu’ dan rendah hati. Allah dan juga manusia membenci orang-orang yang sombong dan mencintai orang-orang yang tawadhu’ dan rendah hati.

Hidup Sehat Dengan Puasa

Puasa memberikan faedah dan keuntungan dari sisi kesehatan karena dengan sedikit makan menjadikan pencernakan mampu untuk beristirahat sementara waktu sehingga kotoran-kotoran dan sisa-sisa yang terdapat di dalamnya terserap oleh tubuh dan tubuhpun menjadi sehat dengan puasa… Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah lain dari puasa, semoga kita mendapatkan semuanya, amien…

 

Iklan

Berusaha Menjauhkan Diri dari Dosa

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dalam kehidupan ini…Lembaran yang putih, bersih, jernih, bening, bersinar dan bercahaya…

Diantara hikmah puasa adalah  supaya hati kita jernih untuk berpikir dan berdzikir karena banyak makan minum serta memuaskan syahwat menyebabkan kelalaian, dan adakalanya hati menjadi keras dan buta dari kebenaran karenanya.   Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang anak adam itu memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari pada perut. Cukuplah bagi seseorang makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa harus menambahnya, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya.”  (HR. Imam Ahmad dll).

Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam -Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.  Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani –Rahumahullah: “Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya.”

Ada sebuah kisah menarik dari seorang  ulama:

Dikisahkan Suatu hari, ada seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?”

“Tidak mungkin, nak,” jawab ayahnya sambil tersenyum.

Gadis kecil itu penasaran. Baginya, bisa saja ada orang yang tidak melakukan dosa selama hidupnya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?”

Sambil menggelengkan kepalanya, ayahnya berkata, “Tak mungkin, nak.”

Gadis kecil itu tidak mau berhenti bertanya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?”

sang ayah berkata, “Tidak mungkin, nak.”

Gadis kecil itu bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?”

Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawabnya. Lantas ia berkata, “Hmm.. Satu hari 24 empat jam Nak, sepertiganya (terpotong) 8 jam kita gunakan untuk tidur, dan sisanya kita gunakan untuk bersosialisai, jadi tidak mungkin kita tidak berbuat berdosa dalam sehari”

Gadis kecil itu mengajukan pertanyaan lagi, “Lalu bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? Tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, ayah? Bisakah?”

Ayahnya tertawa dan berkata, “Nah, kalau itu mungkin bisa, nak.”

Gadis kecil itu tersenyum lega. “Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, supaya aku bisa belajar untuk tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ayah,” kata gadis kecil itu.

Ayahnya berkata : “Kalau begitu nak,  Yuk satu jam ini,  kita taat menahan diri untuk tidak berbuat dosa,kalau memang satu jam ini kita bisa,  maka pelan-pelan kita  tambah  setengah jam, dan jam-jam berikutnya…

Banyak orang membuat niat untuk hidup baik dan menjadi sholeh selama hidupnya. Sayang, niat mereka hanya bertepuk sebelah tangan. Hari ini berjanji untuk hidup baik keesokan harinya, nyatanya langsung dilanggar dengan melakukan hal-hal yang menyakitkan sesamanya.

 

Manusia tidak ada yang maksum kecuali para nabi dan rosul.

Rosulullah yang sudah dijamin masuk surga, yang sudah digaransi dari perbuatan dosa dan maksiat, tetapi beliau ber-istighfar 70 sampai 100 kali dalam sehari.  Beliau menangis dg terisak memohon ampun kepada Allah.

Lalu bagaimana dengan diri kita ini yang berlumuran dosa, berapa banyak  istighfar yang kita ucapkan setiap harinya??

Hikmah: jika  seseorang mampu menahan dari dosa (menjauhinya) maka akan dimudahkan di-ijabah  (dikabulkan) do’a2nya dan dilancarkan rejekinya.

Rosululloh bersabda:” Tidak ada yang  bisa merubah takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang bisa menambah dalam usia kita kecuali kebaikan.” Riwayat al hakim.

Ketauhilah bahwa seseoarang terhalang dari rezekinya sebanyak  maksiat dosa yang ia lakukan. Ini merupakan arahan indah yang  ulama  nasehatkan kepada kita agar kita membanyak beristighfar.

“Kalau kalian bisa beristighfar (kata Allah), maka akan aku beri kenikmatan  yang lebih baik ketimbang kau belum beristighfar.”

Perbanyak istighfar pada Allah.  Ini penting….

Kenapa demikian?   Karena Kesuksesan kita di bulan Ramadhan ini  sangat ditentukan oleh hal ini.    Karena yang membuat kita malas dalam beribadah, cepat lelah menjalankan kan sholat lail atau terawih di bulan Ramadhan ini adalah  beban dosa yang kita pikul ini.

Dosa akan menjauhkan kita dari ibadah, dosa akan meletihkan kita. Satu dosa kita terikat dengan dosa yang lain seperti rantai besi yang terjalin kuat

Dosa akan mengundang dosa lain. Bukan mengundang  ketaatan.

Ibnu Rajab berkata “Ganjaran dari dosa adalah dosa berikutnya.  Dosa mengarahkan kita pada dosa, dosa berikutnya lagi”.

Maka, mari  kita putus  rantai dosa-dosa tersebut dengan banyak beristighfar bertobat meminta  pada Allah SWT.

Istighfar merupakan sebab diampuninya dosa, sebab masuknya surga, tertolaknya musibah serta bertambahnya harta dan anak.

Susungguhnya ala qur’an  menunjukkan penyakit dan obat kalian. Penyakit kalian adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istighfar.

Fiman Allah dalam al Qur’an surat Hud ayat 52: Dan  dia (Nabi Hud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.

Bersyukurlah kita, karena Alllah masih berkenan menutup aib-aib (dosa) kita.  Sesungguhnya kita masih dihormati dan dihargai orang lain karena Allah masih menutupi aib kita. Andaikan Allah membukakan aib (keburukan kita, sesungguhnya pastilah tidak ada yang bisa menolong kita dari kehinaan.

Andaikan aib (keburukan)itu berbau busuk  laksana seperti bangkai, maka pastilah orang akan menjauhi kita, tidak betah lama2 berada dekat-dekat  dengan kita.

Mari kita optimalkan, sepuluh hari terakhir ini dengan banyak beristighfar memohon ampunan kepada Allah.

Mari kita terus bersibuk diri memperbaiki diri menjadi pribadi muslim yang lebih  baik dan bermanfaat bagi sesama dan sekitar kita.

Semoga Ramadhan ini merupakan ramadhan yang terbaik , diantara ramadhan-ramadhan yang telah lalu  dalam hidup kita.

 

Hikmah; 6 Pertanyaan Imam Ghazali

Suatu hari , imam Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu, Imam al Ghazali bertanya tentang enam hal. Pertama,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”

Murid-muridnya menjawab, “Orang tua guru, kawan, dan sahabat.”

Imam Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Namun, yang paling dekat dengan kita adalah,”MATI”. Sebab, itulah yang dijanjikan Allah bahwa setiap yang bernyawa, pasti akan mati. (QS. Ali Imran: 185)

Kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”

Murid-muridnya menjawab, “Negara Cina, Bulan, matahari, dan bintang-bintang.”

Lalu Imam Ghazali mengatakan, bahwa semua itu benar, tapi yang paling benar adalah “MASA LALU”. Masa lalu tidak akan pernah kembali, sedangkan manuasia tidak akan mampu kembali ke masa lalu atau mengubahnya. Oleh sebab itu, kita harus mampu menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.

Ketiga, “Apa yang paling besar di dunia ini?” Baca lebih lanjut

Makna Lembaran

Betapa indah kata-kata Al Imam ibn Rajab Al Hambali dalam sya’irnya:-
ليس العيد لمن لبس الجديد
إنما العيد لمن طاعاته تزيد
ليس العيد لمن تجمل باللباس و الركوب
إنما العيد لمن غفرت له الذنوب
Bukanlah hari raya itu milik orang yang berpakaian baru, Akan tetapi hari raya itu, milik orang yang ketaatannya bertambah. Dan bukanlah hari raya itu milik orang yang berhias dengan pakaian yang indah dan kendaraannya mewah,  tetapi hari raya itu adalah milik orang yang telah diampunkan  baginya  dosa-dosanya. Bagaimana air mata seorang mukmin tidak mengalir atas perpisahan dengan bulan ramadhan, sedang dia tidak mengetahui apakah masih tersisa lagi umurnya untuk kembali pada ramadhan yang akan datang.

[kitab Lathaiful Ma’arif  karya Al Imam Ibn Rajab]

Harga pasar untuk saham dalam Islam

Pada prinsipnya transaksi bisnis harus dilakukan pada harga yang adil, sebab ia adalah cerminan dari komitmen syari`ah Islam terhadap keadilan yang menyeluruh. Secara umum harga yang adil ini adalah harga yang tidak menimbulkan eksploitasi atau penindasan sehingga merugikan salah satu pihak dan menguntungkan pihak yang lain. Harga harus mencerminkan manfaat bagi pembeli dan penjualnya secara adil, yaitu penjual memperoleh keuntungan yang normal dan pembeli memperoleh manfaat yang setara dengan harga yang dibayarkannya.

Ajaran Islam secara keseluruhan menjunjung tinggi mekanisme pasar yang bebas. Harga keseimbangan dalam pasar yang bebas (competetive market price) merupakan harga yang paling baik, sebab mencerminkan kerelaan antara produsen dan konsumen (memenuhi persyaratan kerelaan diantara dua belah pihak). Menurut Mannan ada 3 fungsi dasar dari penetapan suatu harga, yaitu fungsi ekonomi, fungsi sosial dan fungsi moral. [1]

Dalam Islam, pasar tidak boleh lepas dari norma-norma dan aturan syariah. Konsep pasar dalam ekonomi Islam adalah sebuah mekanisme yang dapat mempertemukan pihak penjual dengan pihak pembeli. Adapun penentuan harga ditentukan oleh kekuatan-kekuatan pasar, yaitu kekuatan  permintaan (demand ) dan kekuatan penawaran ( supply). Sedangkan pertemuan antara penjual dan pembeli harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut[2]:

  1. Segala transaksi dilakukan harus atas dasar suka-sama suka atau kerelaaan diantara kedua belah pihak. Hal ini sesuai dengan dalil dalam al Qur’an:

يايّها الّذ ين امنوا لا تأ كلوااموالكم بينكم باالباطل الّاان تكون تجارةعن تراض مّنكم ولا تقتلوا انفسكم انّ الله كان بكم رحما [3]ÇËÒÈ

  1. Berbuat adil, jujur dan tidak melakukan kecurangan. Kejujuran merupakan pilar yang sangat penting dalam Islam, sebab kejujuran adalah nama lain dari kebenaran itu sendiri. Firman Allah dalam Al Qur’an:

ولا تقربوأ ما ل اليتيم إ لاّ با لّتي هي أحسن حتّى يبلغ أشدّه, وأوفوا الكيل واميزن بالقسط, و لا نكلف نفسا إلاّ وسعها, وإذا قلتم فا عد لوأولو كان ذاقربى وبعهد الله أوفوا ذلكم وصّلكم به لعلّكم تدكّرون ÇÊÎËÈ [4]

  1. Sesuai pada aturan dan tidak merugikan pihak lain.
  2. Transparan dalam transaksi dengan tidak menyembunyikan hal-hal yang ditutupi sehingga menimbulkan ketidakjelasan.
  3. Bersaing secara sehat dan tidak menghalalkan segala cara yang dapat merusak pasar. Mekanisme pasar akan terhambat bekerja jika terjadi penimbunan atau monopoli.

Menurut Adiwarman Karim, penentuan harga dilakukan oleh kekuatan pasar, yaitu kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran. Pertemuan permintaan dengan penawaran tersebut haruslah terjadi secara rela sama rela, tidak ada pihak yang merasa terpaksa untuk melakukan transaksi pada tingkat harga tersebut.[5] Mekanisme pasar yang wajar mengharuskan adanya moralitas (fair play), kejujuran (honesty), keterbukaan (transparancy) dan keadilan (justice). Jika nilai-nilai ini ditegakkan, maka tidak ada alasan untuk menolak harga pasar. Baca lebih lanjut

Investasi Zakat Untuk Kesejahteraan Ummat

Sebagai negara dengan jumlah ummat Islam terbanyak di dunia, Indonesia memiliki peluang terkumpulnya jumlah zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang besar.   Hakikat zakat yaitu dimana orang yang mampu (kaya) berkewajiban membantu orang tidak mampu (miskin). Zakat adalah rukun islam yang ketiga setelah syahadat dan sholat. Ajaran sunnah telah memberikan batasan-batasan-batasan tentang harta apa saja yang wajib dizakati, batas minimalnya (nishab), dan ukuran/jumlah zakat yang diwajibkan dalam harta-harta tersebut. Allah SWT telah menjelaskan kemana saja zakat itu disalurkan dalam al qur’an.

Pendapatan utama Indonesia bersumber dari penerimaan pajak yan ditarik dari rakyat. Penerimaan dari pajak saat ini mencapai lebih dari separuh APBN, digunakan untuk belanja dan pembangunan di Indonesia. Jika ummat muslim Indonesia memiliki kesadaran untuk membayar zakat seperti halnya kesadaran dalam membayar pajak, maka dana (ZIS) yang terkumpul tentunya akan lebih besar. Penerimaan zakat yang maksimal akan menyediakan dana yang dapat dioptimalkan dalam usaha memakmurkan masyarakat.

Salah satu alasan kurang maksimalnya penerimaan zakat adalah kurangnya edukasi (informasi) tentang zakat pada ummat. Sebagian besar zakat (ZIS) baru tekumpul dari para golongan yang melek informasi dan memahami pentingnya kewajiban berzakat, seperti kalangan kyai, ustadz, santri, maupun ‘alim yang paham agama.

Dengan segala kelebihan yang ada saat ini membayar zakat sangat mudah.   Zakat dilakukan dengan cara transfer, layanan jemput zakat, maupun dengan datang langsung ke kantor lembaga amil zakat. Kita dapat juga berkonsultasi dengan konsultan zakat untuk memperoleh informasi tentang harta yang wajib dizakati atau menghitung besarnya zakat yang harus dikeluarkan. Akhirnya marilah kita giatkan menunaikan kewajiban ber-zakat untuk membantu sesema menuju kesejahteraan bangsa. Baca lebih lanjut

Bank Syariah Belum Syar’i?

Masih banyak kalangan yang skeptis dengan Bank Syariah, mereka menilai bank syariah tidak jauh berbeda dengan bank konvensional. Dengan kata lain, bank syariah masih penuh dengan riba. Undang-undang BI yang menjadi payung hukum dan fatwa DSN MUI yang menjadi payung syariah, belum cukup untuk melegalkan praktek bank syariah. Lebih parah lagi, mereka menuduh bank syariah telah melakukan kamuflase dengan berbagai istilah syariah untuk menutupi praktek riba. bank syariah juga masih belum jelas dalam memberikan dasar penetuan return depositonya.

Bank konvensional menggunakan bunga sebagai dasarnya, maka jika suku bunga dinaikkan, inflasi pun akan naik, sementara perkembangan ekonomi akan turun. Muncul beberapa pandangan skeptis bahwasanya perbankan syariah saat ini menjadi suatu fenomena sebagai alternatif sistem bank tanpa riba yang diyakini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi.

Logo IB Perbankan Syariah

Perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah saat ini masih direspons dengan skeptis oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Sikap ini juga dirasakan perbankan syariah di negara Muslim lainnya. Skeptisme masyarakat terhadap perbankan syariah tidak lepas dari dominasi sistem keuangan perbankan berbasis bunga yang telah berlangsung sejak masa kolonial sampai sekarang.

Selain itu, masih ada beberapa permasalahan khususnya dalam operasional kelembagaannya, khususnya dalam perbankan. Irfan Syauqi menemukan adanya  beberapa problematika yang muncul seiring dengan berkembangnya industri perbankan syariah yang dapat dikategorikan pada beberapa masalah yang di antaranya adalah:

1. Pertama, adalah kurangnya deposito.

2. Kedua, masalah yang dihadapi oleh perbankan syariah adalah likuiditas berlebihan (excessive liquidity).

3. Ketiga, adalah problematika biaya dan profitabilitas.

4. Keempat yang dihadapi selanjutnya adalah masalah pendanaan pinjaman untuk konsumsi.

5. Kelima adalah masih minimnya sumberdaya manusia yang memahami secara komprehensif segala hal yang berkaitan dengan industri perbankan syariah.

6. Keenam yang dihadapi kalangan perbankan syariah adalah belum maksimalnya institusi undang-undang yang menjadi payung hukum bagi keseluruhan aktivitas perbankan Islam.

Persoalan Bunga Bank

Sikap skeptis diatas dapat dipahami sebab mereka masih belum percaya dengan adanya lembaga keuangan tanpa adanya bunga. Demikian pula para pengamat luar yang menyatakan dapatkah suatu sistem keuangan dapat dijalankan tanpa bunga? Jelaslah bahwa suku bunga merupakan faktor yang mengakibatkan ‘demand’ untuk investasi dan tabungan. Perspektif neo-klasik percaya bahwa tabungan dan investasi akan dipengaruhi oleh turun atau naiknya suku bunga. Investasi menyatakan kebutuhan akan sumber-sumber yang dapat diinvestasikan, tetapi tabungan menyatakan persediaan, sedangkan suku bunga merupakan harga dari sumber-sumber yang dapat diinvestasikan.

Teori neo-klasik  dengan gamblangnya berpendapat bahwa mengkaitkan tingkat suku bunga secara otomatis akan merangsang para investor untuk menginvestasikan uangnya. Sesuai dengan pandangan ini, sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia selalu akan membandingkan keputusan investasi atau menabung dengan tingkat suku bunga saat itu. Sebagian besar masyarakat Muslim belum terbiasa untuk menghindari pendapat tersebut dari kehidupan ekonomi mereka. Nampaknya tanpa adanya suku bunga proses bisnis tidak akan berjalan baik dan menguntungkan.

Beberapa keberatan adanya pranata bunga uang dikemukakan oleh para pendukung bank Islam. Bunga bank, menurut Mannan adalah riba, karena dalam Islam uang itu sendiri tidak menghasilkan bunga atau laba dan tidak dipandang sebagai komoditi. Dengan demikian, uang hanya sebagai alat transaksi, tidak lebih dari itu.  Sedangkan menurut Mahmud Ahmad Dari segi fungsi uang sebagai alat tukar, sehingga adanya sistem bunga dapat menyebabkan likuiditas uang. Jika bunga dibasmi maka premi likuiditas akan hilang dan motif untung-untungan untuk menyimpan uang akan lenyap. Di pihak lain, elastisitas substitusi uang adalah nol, sehingga suatu peningkatan dalam permintaan pasti meningkatkan nilai bunga. Kalau tidak dikatakan bahwa inflasi adalah konsekwensi bunga uang, tetapi bunga uang dinilai mempunyai andil dalam lajunya inflansi. Padahal ciri stabilitas ekonomi adalah terkendalinya inflasi. Dengan demikian, transaksi peminjaman “bebas bunga” ikut mengendalikan laju inflasi berdasarkan teori ini.

Komitmen dan Implementasi Bank Islam

Bank syariah adalah bank yang menjalankan bisnis perbankan dengan menganut sistem syariah yang berbasis hukum Islam. Dalam hukum Islam dinyatakan bahwa riba itu haram, sehingga bisnis bank konvensional yang menerapkan sistem rente atau riba dengan perhitungan bunga berbunga, baik untuk produk simpanan maupun pinjamannya, tidak sesuai dengan hukum islam.

Bank syariah tidak menerapkan sistem bunga tetapi menerapkan sistem bagi hasil, yaitu sistem pengelolaan dana dalam perekonomian Islam. Perhitungan bagi hasil didasarkan pada mufakat pihak bank bersama nasabah yang menginvestasikan dananya di bank syariah. Besarnya hak nasabah terhadap banknya dalam perhitungan bagi hasil tersebut, di tetapkan dengan sebuah angka ratio atau besaran bagian yang disebut Nisbah.

Penutup

Di masa depan diharapkan bank-bank syariah melakukan usaha percepatan dalam pengembangan dan perbaikan produk sesuai prinsip syariah, serta mengikuti perkembangan regulasi yang mengacu pada standar internasional. Kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses layanan perbankan syariah dan ketersediaan produk investasi syariah tidak akan optimal tanpa promosi dan edukasi yang memadai tentang lembaga keuangan syariah. Amat dibutuhkan pula jaminan produk yang ditawarkan patuh terhadap prinsip syariah. Oleh karena itu maka perbaikan-perbaikan dalam kegiatan praktek bisnis syariah dalam hal pelayanan maupun kegiatan-kegiatan investasi harus lebih digalakkan. Dengan demikian, insya Allah  bank Islam akan terus mengalami perkembangan.

Rujukan:

http://efa-mbem.blogspot.com/2013/04/makalah-keuangan-islam.html

Ada Surga Ditelapak Kakimu

Beberapa hari yang lalu dalam sebuah seminar saya mendengar sebuah pernyataan yang menarik  dari salah seorang pembicara:

“Sesungguhnya Surga anak itu  ada di telapak kaki ibu , sedangkan surga seorang istri ada di telapak kaki suami , dan tiket surga bagi orangtua ada pada anaknya.”

Mari kita kupas  satu persatu pernyataan tersebut dan mehubungkannya dengan hadis terkait:

1. Surga Anak ada ditelapak kaki Ibu

Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi saw lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”
      Makna dari hadis diatas menurut As-Sindi adalah: “Bagianmu dari surga itu tidak dapat sampai kepadamu kecuali dengan keridhaannya, dimana seakan-akan seorang anak itu milik ibunya, sedangkan ibunya adalah tonggak baginya. Bagian dari surga untuk orang tersebut tidak sampai kepadanya kecuali dari arah ibunya tersebut. Hal itu karena sesungguhnya segala sesuatu apabila keadaannya berada di bawah kaki seseorang, maka sungguh ia menguasainya dimana ia tidak dapat sampai kepada yang lain kecuali dari arahnya.”
“Surga itu dibawah telapak kaki ibu”. Artinya patuh dan ridhanya menjadi sebab masuknya seseorang didalam surgaAl-Aamiri berkata “maksudnya ukuran dalam berbakti dan khidmah pada para ibu bagaikan debu yang berada dibawah telapak kaiki mereka, mendahulukan kepentingan mereka atas kepentingan sendiri dan memilih berbakti pada mereka ketimbang berbakti pada setiap hamba-hamba Allah lainnya karena merekalah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui serta mendidik anak-anak mereka”.

Baca lebih lanjut

Karena Allah Menunda ‘Kesuksesan’ Kita

Kesuksesan itu sunatullah, diberikan kepada orang yang profesional.

“…Barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya.”

Lantas mengapa kesuksesan itu ditunda, diakhirkan atau ditangguhkan oleh sang pencipta.  Ada beberapa Hikmah mengapa Allah ‘menunda’ kesuksesan Kita, diantaranya:

  1. Pantaskan Diri – Karena Kita masih terlalu lemah untuk memegang amanah tersebut, belum matang dan belum sempurna dalam membentuk kepribadian.  Belum menggalang semua sumber daya.  belum mengenali sejauh mana batas potensi dan keahlian yang masih terpendam.  Karena bila sukses diberikan kepada orang yang masih mentah niscaya dia tidak akan mampu bertahan.  Ia tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan kesuksesan itu lebih lama lagi.
  2. Totalitas – Agar kita mengerahkan seluruh sumber daya kekuatan yang ada dan cadangan devisa yang dipunya, tidak menyisakan sedikitpun dari sesuatu yang berharga ataupun yang dicintai melainkan semua itu dicurahkan dengan ringannya demi perjuangan di jalan Allah.  Ironisnya, selama ini kita sering kali hanya berkorban dengan sisa-sisa waktu, sia-sisa tenaga, sia-sisa harta, dan sisa-sisa lain dari bagian hidup kita.  Maka wajar bila sukses tak kunjjung tiba. Kalaupun dapat sekedar sisa?
  3. Mendekat dengan Yang Maha Kuasa –   salah satu kekuatan final untuk menggapai kesuksesan adalah dukungan dari Allah.  Sesungguhnya pertolongan Allah tidak akan diturunkan kecuali bila kita telah mengerahkan akhir kekutan yang disanggupi, dan kemudian menyerahkannya kepada Allah.  Keharmonisan hubungan dan eratnya interaksi dengan sang Pencipta akan menjadi jaminan awal bagi komitmen dalam menggapai kemenangan.
  4. Karena kita belum ikhlas secara total dalam perjuangan, mobilitas dan pengorbanan.  Kita masih melangkah setengah hati.  Melangkahkan kaki kanan ke surga tetapi menitipkan kaki kiri ke neraka. Kita belum murni dalam mengerahkan potensi dan mengarahkan kekutan kita.  Masih menimbang-nimbang antara kenikmatan dalam taat dan menikmati aneka maksiat.
  5. Karena kita tidak mampu meliohat dan memanfaatkan momentum .  Karena tersibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat,  cenderung cinta dunia, takut mati dan kehilangan momen yang bersejarah.

Awal dalam melangkah menggapai kemenangan kita perlu target yang jeleas, tujuan yang hendak dicapai, apakah mengandung kebaikan dan bermanfaat.  Jika dari awal niatnya sudah salah maka besar kemungkinan tujuan itu tidak tercapai.  Jadi pertama, Mari luruskan niat.

ketika niat sudah  diperbaiki, selanjutnya adalah memaksimalkan  sumberdaya (kekuatan) yang kita miliki dengan totalitas.  Rela mengorbankan semua yang dimiliki serta bersungguh-sungguh dalam mengoptimalakan usaha diri, memaksimalkan peluang dan kesempatan yang ada.

Dan ketika semua usaha sudah dilakukan secara maksimal, maka kini  saatnya untuk berserah diri, mengharap yang terbaik dari-Nya.  Kita harus lebih mendekatkan diri pada Allah dengan memperbanyak ilmu, ibadah dan amal untuk melancarkan usaha menggapai kemenangan.   Terkadang dalam menanti kemenangan kita kurang bersabar dan berputus asa. Menapaki jalan kesuksesan ibarat menapaki  anak tangga; kita tahu tujuan diatas, mulai menapaki satu-persatu anak tangga dengan usaha yang optimal, siap akan risiko terjatuh atau terpeleset, dan bersabar terus berjuang mencapai puncak.

Seringkali kita terpeleset dan mengalami kegagalan, teruslah berjuang dan yakinlah bahwa kemenangan akan engkau raih. Dalam 100 percobaan mencapai keberhasilan, mungkin 99 usaha mengalami kegagalan dan hanya 1 usaha yang berhasil.  Jangan takut menghadapi permasalahan dan kegagalan, karena itu adalah sarana kita untuk belajar, bangkit dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.  Pahitnya kegagalan akan memberikan rasa manisnya kemenangan.

Kunci utamanyanya: Niat yang baik, Usaha yang optimal, doa dan tawakal.

Rindu Baitullah

Ibadah haji merupakan dambaan bagi setiap muslim, tak terkecuali muslim di Indonesia.  Setiap tahun Indonesia mengirimkan sekitar 200 ribu jamaah untuk berangkat menunaikan ibadah haji.  Semenjak tahun 2013 kemaren ada pengurangan kuota untuk semua negara yang mengirimkan jamaah hajinya. Kuota  setiap negara dipotong sekitar 20% dari total kuota.  Berdasarkan kesepakatan OKI (Organisasi konferensi Islam) bahwa kuota negara ditetapkan sebesar 0,1% dari jumlah penduduk suatu negara yang artinya hanya 1 orang dari 1000 orang yang tinggal disuatu daerah yang dapat kuota. kuota  ini dilakukan untuk mencegah kemersialisasi Haji oleh  Arab saudi. Indonesia  sebenarnya mendapat porsi kuota sekitar 200 ribu lebih jamaah, tetapi karena ada perluasan dan pembangunan di masjidil Haram sehingga pemerintah KSA mengurangi kuota setiap negara sebesar 20%  sampai sekitar tahun 2016.  Akibatnya kini daftar antrian tunggu Haji semakin panjang bahkan ada yang lebih dari 15 tahun, daftar tahun ini berangkatnnya sekitar 2030.

masjidil-haram-makkah

Antrian Haji untuk Indonesia semakin panjang, oleh karena itu sebaiknya bagi muslim yang ingin berangkat haji mulai mendaftar dari sekarang untuk mendapatkan porsi.  Berdasarkan informasi dari Kemenag untuk haji reguler porsi antrian sudah mencapai tahun 2030an, sedangkan untuk haji plus (ONH+) antrian mencapai tahun 2019 .  Bagi jamaah sebaiknya juga berhati-hati terhadap jasa travel atau oknum tertentu yang menawarkan percepatan antrian,  karena banyak kasus penipuan yang berkedok menawarkan berangkat haji tahun ini dengan membayar sejumlah cost tertentu.

Biaya perjalanan Haji di indonesia berbeda dari tahu ke tahun.  Biaya perjalanan salah satunya dipengaruhi oleh harga kurs dollar  terhadap rupiah.  JIka dollar menguat dan nilai rupiah melemah maka ongkos naik haji menjadi lebih mahal (meningkat) begitupun sebaliknya.  Untuk tahun 2014 ini  biaya perjalan haji reguler di Indonesia  berkisar antara 34 hingga 45 juta rupiah.  Biaya untuk jamaah di  wilayah Aceh  mencapai  sekitar 34 juta rupiah dan untuk wilayah Papua mencapai Sekitar 42 juta rupiah.  Sedangkan untuk  biaya perjalan haji khusus berkisar 8500 dollar hingga 11000 dolar jika dirupiahkan mencapai sekitar  90 sampai 130 juta rupiah, harga ini tentunya berbeda-beda untuk setiap travel sesuai kebijakan masing-masing. Baca lebih lanjut