Akad Ijarah

ijarah adalah penjualan manfaat atau salah satu bentuk aktivitas antara dua belah pihak yang berakad guna meringankan salah satu pihak atau saling meringankan, serta termasuk salah satu bentuk tolong-menolong yang dianjurkan agama.

Menurut bahasa,  Ijarah berasal dari kata al–ajru yang artinya adalah al-iwadh dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai ganti dan upah
Dalam arti luas, ijarah adalah suatu akad yang berisi penukaran manfaat sesuatu dengan jalan memberikan  imbalan dalam jumlah tertentu.
Dalam Fikih Islam, ijarah  yaitu memberikan sesuatu untuk disewakan.
Menurut fatwa DSN ijarah didefinisikan sebagai akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.

Landasan  hukum :
1.    QS. Al-Zukhruf: 32
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

2.    QS. Al-Qashash: 26-27
“Salah seorang dari dua orang wanita itu berkata; Ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. Berkata ia (Nabi Syuaib); Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari dua orang anakku ini atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun, dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka hal itu adalah kebajikan darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan kamu, dan insya Allah kamu akan mendapatkan aku termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang baik”

3.    Hadits Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Majah:
“Berikanlah upah kepada orang yang kamu pakai tenaganya sebelum keringatnya kering.”

Syarat Ijarah:

  •   Kedua orang yang berakad harus baligh dan berakal
  •    Menyatakan kerelaannya untuk melakukan akad ijarah
  •    Manfaat yang menjadi objek ijarah harus diketahui secara sempurna
  •   Objek ijarah boleh diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak bercacat
  •  Objek ijarah sesuatu yang dihalalkan oleh syara’ dan merupakan sesuatu yang bisa disewakan
  •  Yang disewakan itu bukan suatu kewajiban bagi penyewa
  •  Upah/sewa dalam akad harus jelas, tertentu dan sesuatu yang bernilai harta.

Dalam hal sewa-menyewa atau kontrak tenaga kerja, maka haruslah diketahui secara jelas dan disepakati bersama sebelumnya:

  •  Jenis pekerjaan, dan jumlah jam kerjanya setiap harinya.
  •  Berapa lama masa kerja. Haruslah disebutkan satu atau dua tahun.
  •  Berapa gaji dan bagaimana sistem pembayarannya, harian, bulanan, mingguan ataukah borongan?

Tunjangan-tunjangannya harus disebutkan dengan jelas. Misalnya besarnya uang transportasi, uang makan, biaya  kesehatan, dan lain-lainnya.

Rukun Ijarah:
1)    Mu’jar(orang/barang yang disewa)
2)    Musta’jir (orang yang menyewa)
3)    Sighat (ijab dan qabul)
4)    Upah dan manfaat.

Objek ijarah adalah berupa barang modal yang memenuhi ketentuan, antara lain:
1.    objek ijarah merupakan milik dan/atau dalam penguasaan perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa (muajjir);
2.    manfaat objek ijarah harus dapat dinilai;
3.    manfaat objek ijarah harus dapat diserahkan penyewa (musta’jir);
4.    pemanfaatan objek ijarah harus bersifat tidak dilarang secara syariah (tidak diharamkan);
5.    manfaat objek ijarah harus dapat ditentukan dengan jelas;
6.    spesifikasi objek ijarah harus dinyatakan dengan jelas, antara lain melalui identifikasi fisik, kelayakan, dan jangka waktu pemanfaatannya.

Para ulama Fiqh berbeda pendapat tentang sifat akad ijarah, apakah bersifat mengikat kedua belah pihak atau tidak. Ulama Hanafiah berpendirian bahwa akad ijarah bersifat mengikat, tetapi boleh dibatalkan secara sepihak apabila terdapat uzur dari salah satu pihak yang berakad, seperti contohnya salah satu pihak wafat atau kehilangan kecakapan bertindak hukum. Apabila salah seorang yang berakad meninggal dunia, akad ijarah batal karena manfaat tidak boleh diwariskan.
Akan tetapi, jumhur ulama mengatakan bahwa akad ijarah itu bersifat mengikat, kecuali ada cacat atau barang itu tidak boleh dimanfaatkan. Apabila seorang yang berakad meninggal dunia, manfaat dari akad ijarah boleh diwariskan karena termasuk harta dan kematian salah seorang pihak yang berakad tidak membatalkan akad ijarah.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam berakad ijaroh:
1.    Para pihak yang menyelenggarakan akad haruslah berbuat atas kemauan sendiri dengan penuh kesukarelaan.
2.    Di dalam melakukan akad tidak boleh ada unsur penipuan.
3.    Sesuatu yang diakadkan haruslah sesuatu yang sesuai dengan realitas, bukan sesuatu yang tidak berwujud.
4.    Manfaat dari sesuatu yang menjadi objek transaksi ijaroh harus berupa sesuatu yang mubah, bukan sesuatu yang haram.
5.    Pemberian upah atau imbalan dalam ijaroh haruslah berupa sesuatu yang bernilai, baik berupa uang ataupun jasa.
Berakhirnya Akad Ijarah
a)    objek hilang atau musnah,
b)    tenggang waktu yang disepakati dalam akad ijarah telah berakhir,
c)    menurut ulama Hanafiyah, wafatnya seorang yang berakad.
d)    kedua pihak sepakat untuk membatalkan akad dengan iqolah.
e)    menurut ulama Hanafiyah, apabila ada uzur dari salah satu pihak seperti rumah yang disewakan disita Negara karena terkait utang yang banyak, maka akad ijarah batal. Akan tetapi, menurut jumhur ulama uzur yang boleh membatalkan akad ijarah hanyalah apabila obyeknya cacat atau manfaat yang dituju dalam akad itu hilang, seperti kebakaran dan dilanda banjir.

Tanggung jawab kerusakan
Apabila seorang menyewa sesuatu barang/benda untuk dimanfaatkan,seperti rumah atau mobil,maka tanggung jawab penyewa terhadap obyek sewa bersifat amanah,yaitu dia tidak dituntut tanggungjawab atas kerusakan barang yang berada dalam kuasanya kecuali kerusakan tersebut terjadi atas kecerobohan dalam menjaganya.apabila ia menggunakan obyek akad ijarah tersebut sesuai dengan syarat-syarat yang disepakati dalam akad dan tidak bertentangan dengan kebiasaan dalam penggunaannya maka tanggung jawab tetappada pemilik barang sewaan.

Demikian juga pada ijarah terhadap jasa manusia, khususnya yang bersifat khusus(al-khas), para ulama fiqih sepakat bahwa apabila obyek yang dikerjakan rusak ditangannya,bukan karena kelalaian atau kesengajaannya, maka menurut kesepakatan pakar fiqih,ia wajib membayar ganti rugi. Sedangkan ijarah yang berupa pekerjaan atau jasa manusia yang bersifat umum (musytarik), maka apabila pekerjaan yang dilakukan menimbulkan kerugian para ulama sepakat bahwa pekerja harus bertanggung jawab  bila kerugian tersebut timbul dari kecerobohan dan kelalaiannya.

Dalam Hukum Islam ada dua jenis ijarah, yaitu:
1.    Ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa, yaitu mempekerjakan jasa seseorang dengan upah sebagai imbalan jasa yang disewa. Pihak yang mempekerjakan disebut mustajir, pihak pekerja disebut ajir dan upah yang dibayarkan disebut ujrah.
2.    Ijarah yang berhubungan dengan sewa aset atau properti, yaitu memindahkan hak untuk memakai dari aset atau properti tertentu kepada orang lain dengan imbalan biaya sewa. Bentuk ijarah ini mirip dengan leasing (sewa) pada bisnis konvensional. Pihak yang menyewa (lessee) disebut mustajir, pihak yang menyewakan (lessor) disebut mu’jir/muajir dan biaya sewa disebut ujrah.

Ijarah bentuk pertama banyak diterapkan dalam pelayanan jasa perbankan syari’ah, sementara ijarah bentuk kedua biasa dipakai sebagai  bentuk investasi atau pembiayaan di perbankan syari’ah.

Ijarah Muntahia Bi al-Tamlik
Al-Ba’i wa al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan rangkaian dua buah akad, yakni akad al-ba’i dan akad al-ijarah muntahia bi al-tamlik. Al-ba’i merupakan akad jual beli, sedangkan al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan kombinasi sewa menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah di akhir masa sewa.
Ijarah muntahia bi al-tamlik adalah transaksi sewa dengan perjanjian untuk menjual atau menghibahkan objek sewa di akhir periode sehingga transaksi ini diakhiri dengan kepemilikan objek sewa.Dalam ijarah muntahia bi al-tamlik, pemindahan hak milik  barang terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut ini :
a. Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa.
b. Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang yang disewaakan tersebut pada akhir masa sewa.
Adapun bentuk alih kepemilikan ijarah muntahia bi al-tamlik antara lain :
a. Hibah di akhir periode, yaitu ketika pada akhir periode sewa aset dihibahkan kepada penyewa.
b. Harga yang berlaku pada akhir periode, yaitu ketika pada akhir periode sewa aset dibeli oleh penyewa dengan harga yang berlaku pada saat itu.
c. Harga ekuivalent dalam periode sewa, yaitu ketika membeli aset dalam  periode sewa sebelum kontrak sewa berakhir dengan harga ekuivalen.
d. Bertahap selama periode sewa, yaitu ketika alih kepemilikan dilakukan bertahap dengan pembayaran cicilan selama periode sewa.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Akad Ijarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s