Wakaf Memberdayakan Ummat

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah Islam, wakaf merupakan sarana dan modal yang amat penting dalam memajukan perkembangan agama. Dalam sejarah peradaban Islam, sejak awal di-tasyrik-kannya, wakaf telah memiliki peran yang sangat penting dalam langkah-langkah meningkatkan kesejahteraan sosial umat Islam pada masa itu dan masa-masa selanjutnya. Hal ini disebabkan bahwa prinsip wakaf adalah memadukan dimensi ketakwaan dan kesejahteraan. Terbukti bahwa manfaat wakaf, pada masa keemasan Islam, telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan tersohor dan kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat.
Dengan pesatnya perkembangan zaman, wakaf tidak lagi hanya diasosiasikan pada obyek wakaf berupa tanah, akan tetapi sudah merambah kepada wakaf bentuk lain seperti benda bergerak berupa uang. Di Indonesia, beberapa jenis wakaf baru tentang wakaf telah diakonomodasi oleh UU No 41 tahun 2004 tentang Wakaf, sebagai bentuk penyempurnaaan konsep wakaf yang terdapat dalam kompilasi hukum Islam.
Wakaf telah banyak membantu pengembangan dalam berbagai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya. Biasanya, hasil pengelolaan harta benda wakaf digunakan untuk membangun fasilitas-fasilitas publik di bidang keagamaan, kesehatan, pendidikan, pembangunan masjid, rumah sakit, perpustakaan, gedung-gedung, dan lainnya.
Merujuk pada data Departemen Agama (Depag) RI, jumlah tanah wakaf di Indonesia mencapai 2.686.536.656,68 meter persegi atau sekitar 268.653,67 hektar (ha) yang tersebar di 366.595 lokasi di seluruh Indonesia. Jumlah tanah wakaf yang besar ini merupakan harta wakaf terbesar di dunia. Sayangnya, tanah wakaf tersebut sebagian besar baru dimanfaatkan untuk kesejahteraan masjid, kuburan, panti asuhan, dan sarana pendidikan. Dan hanya sebagian kecil yang dikelola ke arah lebih produktif. Harta wakaf lebih banyak bersifat diam (77%) daripada yang menghasilkan atau produktif (23%). fakta perwakafan di Indonesia, punya aset besar tapi belum dioptimalkan.
Mengapa potensi wakaf di Indonesia belum produktif? Pastinya, masalah ini terletak ditangan Nazhir, selaku pemegang amanah dari Waqif (orang yang berwakaf) untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf. Artinya, pengelolaan harta wakaf belum dilakukan secara profesional. Mestinya, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, menjadi pionir dalam pengembangan ekonomi umat.

B. Rumusan Masalah
1) Apa yang dimaksud dengan wakaf?
2) Bagaiman konsep wakaf di Indonesia?
3) Apakah syarat dan rukun wakaf?
4) Bagaiman ketentuan wakaf dan peruntukan harta wakaf?
5) Bagaimana pengelolaan harta wakaf di Indonesia dibandingkan dengan negara lain?
6) Apakah tantang perkembangan wakaf di Indonesia?

C. Manfaat
Mengetahui potensi wakaf yang ada di Indonesia dan cara mengembangkannya agar menjadi harta produktif sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan ummat.

PEMBAHASAN
A. Definisi Wakaf
Wakaf berasal dari bahasa arab yang “waqafa” yang berarti menahan, berhenti, diam ditempat, atau tetap berdiri. Kata al-Waqf dalam bahasa arab mengandung arti menahan harta untuk diwakafkan, tidak dipindahmilikkan.
Menurut Abu hanifah, wakaf adalah menahan suatu benda yang menurut hukum tetap milik si wakif dalam rangka mempergunakan manfaatnya untuk kebajikan.
Mahzab maliki berpendapat bahwa wakaf itu tidak melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, tetapi wakaf tersebut mencegah wakif melakukan tindakan yang dapat melepaskan kepemilikannya atas harta tersebut kepada pihak lain dan wakif berkewajiban menyedekahkan manfaatnya serta tidak boleh menarik kembali wakafnya.
Mahzab syafi’i dan Ahmad, berpendapat bahwa wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, setelah sempurna prosedur perwakafan.
Definisi wakaf menurut Ibn Qudamah, wakaf adalah “menahan asal dan mengalirkan hasilnya”.
Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah atau untuk kepentingan kesejahteraan umum menururt syariah.
Wakaf bertujuan untuk memberikan manfaat atau faedah harta yang diwakafkan kepada orang yang berhak dan dipergunakan sesuai dengan ajaran syariah Islam. Hal ini sesuai dengan fungsi wakaf yang disebutkan pasal 5 UU no. 41 tahun 2004 yang menyatakan wakaf berfungsi untuk mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

B. Dasar hukum wakaf
Ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan Wakaf
Secara eksplisit tidak ditemukan ayat al-Quran yang mengatur tentang wakaf, namun secara implisit cukup banyak ayat-ayat yang bisa jadi dasar hukum tentang wakaf, yaitu beberapa ayat tetang infak diantaranya:
Qur’an : al Hajj : 77
Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.
Qur’an : al Baqarah : 261
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Qur’an surat Ali Imran : 92
لن تنالوا الير حتى تنفقوا مما تحبون وما تنفقوا من شيء فان الله به عليم
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Hadits Nabi yang secara tegas menyinggung dianjurkannya ibadah wakaf, yaitu perintah Nabi kepada Umar untuk mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar :
Dari Ibnu Umar ra. Berkata, bahwa sahabat Umar Ra. Memperoleh sebidang tanah d Khaibar kemudian menghadap kepada Rasulullah untukm memohon petunjuk Umar berkata : Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah engkau perintahkan kepadaku ? Rasulullah menjawab: Bila kamu suka, kamu tahan (pokoknya) ntanah itu, dan kamu sedekahkan (hasilnya). Kemudian Umar menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau makan dengan tidak bermaksud menumpuk harta (HR. Muslim).
Dari Ibnu Umar, ia berkata : “Umar mengatakan kepada Nabi Saw, saya mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin menyedekahkannya. Nabi Saw mengatakan kepada Umar : Tahanlah (jangan jual, hibahkan dan wariskan) asalnya (modal pokok) dan jadikan buahnya sedekah untuk sabilillah” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Ayat al-Quran dan Sunnah yang sedikit itu mampu menjadi pedoman para ahli fikih Islam. Sejak masa Khulafaur Rasyidun sampai sekarang, dalam membahas dan mengembangkan hukum-hukum wakaf dengan menggunakan metode penggalian hukum (ijtihad) mereka. Sebab itu sebagian besar hukum-hukum wakaf dalam Islam ditetapkan sebagai hasil ijtihad, dengan menggunakan metode ijtihad seperti qiyas, maslahah mursalah dan lain-lain.
Sehingga dengan demikian, ditinjau dari aspek ajaran saja, wakaf merupakan sebuah potensi yang cukup besar untuk bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Apalagi ajaran wakaf ini termasuk bagian dari muamalah yang memiliki jangkauan yang sangat luas, khususnya dalam pengembangan ekonomi lemah.

C. Syarat, rukun, dan Obyek wakaf
Wakaf dinyatakan sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya. Rukun wakaf ada empat yaitu:
 Wakif (orang yang mewakafkan harta)
 Mauquf bih (barang atau harat yang diwakafkan)
 Mauquf ‘alaih (pihak yang diberi wakaf atau peruntukan wakaf)
 Shighat (pernyataan atau ikrar wakif sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan sebagian harta bendanya)

Syarat wakif
a) Wakif perseorangan (dewasa, sehat, dan cakap), untuk organisasi (pengurus memenuhi syarat sebagai wakif perseorangan, bergerak dalam bidang sosial/ pendidikan/ kemasyarakatan/ keagamaan Islam.
b) Badan Hukum (pengurus memenuhi syarat sebagai wakif perseorangan, Badan Hukum sah, bergerak dalam bidang sosial/ pendidikan/ keagamaan Islam dan kemasyarakatan.
c) Pemilik sah harta benda yang akan diwakafkan.

Nadzir (pengelola obyek wakaf)
1. Nadzir Perorangan (dewasa, sehat, cakap).
2. Organisasi (Pengurus memenuhi syarat sebagai Nadzir perseorangan, bergerrak dalam bidang sosial/pemdidikan/kemasyarakatan/keagamaan Islam.
3. Badan Hukum (Pengurus memenuhi syarat sebagai Nadzir perseorangan, Badan Hukum sah, bergerak dalam bidang sosial/ pendidikan/kemasyarakatan /keagamaan Islam.
4. Terdaftar di BWI dan Kemenag (Pendaftaran dapat dilaksanakan setelah proses wakaf bagi nadzir baru).
Tugas Nadzir
1. Pengadministrasian
2. Mengelola dan mengembangkan harta wakaf sesuai tujuan
3. Mengawasi proses pengelolaan
4. Melaporkan hasil pengelolaan kepada BWI dan Kemenag.
Nadzir dapat memperoleh imbalan maksimal 10 % dari hasil pengelolaan.

Benda Tidak Bergerak yang Dapat Diwakafkan
1. Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik yang sudah terdaftar maupun yang belum terdaftar.
2. Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah dan atau bangunan.
3. Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah, pohon untuk diambil buahnya
4. Hal milik atas satuan rumah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Benda tidak bergerak lain yang sesuai dengan sejarah dan peraturan perundang-undangan.
Benda Bergerak yang dapat Diwakafkan
1. Uang Rupiah, saham atau surat berharga lainnya
2. Logam Mulia
3. Perlengkapan rumah ibadah, mushaf, buku, pakaian
4. Benda bergerak lain yang berlaku
5. Kendaraan, mesin, senjata
6. Hak atas kekayaan intelektual
7. Hak sewa sesuai ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Harta benda wakaf dilarang untuk dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar, atau dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.
Peruntukan harta benda wakaf
Dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi wakaf, harta benda wakaf hanya dapat diperuntukan bagi:
 Sarana atau kegiatan ibadah
 Sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan
 Bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, bea siswa
 Kemajuan dan peningkatan ekonomi ummat
 Kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan Syariah dan peraturan perundang-undangan.

D. Macam-macam wakaf
Berdasarkan dari segi peruntukan kepada siapa wakaf itu dibagi menjadi dua yaitu:
Wakaf ahli (Dzurri/’alal aulad)
Wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, sesorang atau lebi, keluarga si wakif atau bukan. Wakaf ini diperuntukkan bagi kepentingan dan jaminan sosial dalam lingkuangan keluarga (famili), lingkungan kerabat sendiri.
Wakaf khairi
Wakaf yang secara tegas untuk kepentingan agama (keagamaan) atau kemasyarakatan. Seperti wakaf untuk pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit, panti asuhan,dsb.

E. Wakaf tunai (uang)
Istilah wakaf uang belum dikenal di zaman Rasulullah. Wakaf uang (cash waqf ) baru dipraktekkan sejak awal abad kedua hijriyah. Imam az Zuhri (wafat 124 H) salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits memfatwakan, dianjurkan wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam. Di Turki, pada abad ke 15 H praktek wakaf uang telah menjadi istilah yang familiar di tengah masyarakat. Wakaf uang biasanya merujuk pada cash deposits di lembaga-lembaga keuangan seperti bank, dimana wakaf uang tersebut biasanya diinvestasikan pada profitable business activities. Keuntungan dari hasil investasi tersebut digunakan kepada segala sesuatu yang bermanfaat secara sosial keagamaan.

ALUR WAKAF UANG
1. Wakif datang ke Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dan Penerima Wakaf Uang (PWU)
2. Mengisi akta Ikrar Wakaf (AIW) dan melampirkan fotokopi kartu identitas diri yang berlaku
3. Wakif menyetor nominal wakaf dan secara otomatis dana masuk ke rekening BWI
4. Wakif Mengucapkan Shighah wakaf dan menandatangani AIW bersama dengan: 2 orang saksi dan 1 pejabat bank sebagai Pejabat Pembuat AIW (PPAIW)
5. LKS-PWU mencetak Sertifikat Wakaf Uang (SWU)
6. LKS-PWU memberikan AIW dan SWU ke Wakif.

F. Tata cara wakaf
Tata Cara Perwakafan Tanah Milik:
1. Calon Wakif menyerahkan bukti kepemilikan tanah yang akan diwakafkan berupa sertifikat, Keterangan tidak sengketa Pendaftaran tanah, Keterangan Bupati tentang kesesuaian Master Plan untuk diteliti PPAIW.
2. PPAIW melakukan pemeriksaan terhadap Nazir.
3. Wakif menyatakan Ikrar Wakaf dihadapan PPAIW dengan dihadiri Wakif dan 2 orang saksi bermaterai cukup
4. PPAIW menuangan Ikrar Wakaf alam bentuk tertulis
5. PPAIW menuangkan membuat AIW ditandatangani Wakif, Nazir, Saksi dan PPAIW.
6. AIW diserahkan kepada Nazir beserta dokumen tanah.
7. PPAIW menerbitkan pendaftaran wakaf dan mendaftarkan kepada BWI dan Menteri Agama dengan tembusan Kemenag dan Kanwil Kemenag Provinsi.
8. PPAIW memberikan bukti pendaftaran harta wakaf kepada Nazir.
9. Nazir mengurus sertifikat tanah wakaf ke BPN.
10. Terbit Sertifikat Tanah Wakaf.

Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) merupakan pejabat yang berwenang yang ditetapkan oleh menteri untuk membuat akta ikrar wakaf.

Wakaf Benda Bergerak Selain Uang:
1. Calon Wakif menyerahkan dokumen bukti kepemilikan hata benda wakaf (jika ada)
2. PPAIW melakukan pemeriksaan Nazhir.
3. Wakif menyatakan Ikrar Wakaf di hadapan PPAIW dengan dihadiri Wakif dan dua oang saksi.
4. PPAIW menuangkan Ikrara Wakaf dalam bentuk tertulis
5. PPAIW membuat AIW ditandatangani Wakif, Nazhir, saksi, PPAIW bermaterai cukup.
6. AIW diserahkan kepada Nazhir beserta Harta Wakaf.
7. PPAIW mendaftarkan Benda Wakaf kepada BWI dan Menag dengan tembusan Kemenag dan Kanwil Kemenag Provinsi.
8. Nazhir mengurus pengalihan bukti kepemilikan kepada Instansi terkait.
9. Terbit bukti kepemilikan Harta Benda Wakaf.

G. Regulasi
Undang-undang di Indonesia yang mengatur tentang wakaf terdapat dalam:
 Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.
 Peraturan pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik
 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tantang Wakaf
 Peraturan pemerintah No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No. 41 Tahun 2004.

Substansi lahirnya UU No 41 Tahun 2004 tentang wakaf:
• Benda yang diwakafkan berupa benda tak bergerak dan benda bergerak.
• Pentingnya pendaftaran benda-benda wakaf oleh Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW).
• Adanya persyaratan nazhir (pengelola wakaf).
• Menekankan pentingnya pembentukan sebuah lembaga wakaf nasional – BWI.
• Menekankan pentingnya pemberdayaan benda-benda wakaf.
• Adanya sanksi pidana dan sanksi administrasi atas penyimpangan wakaf.

H. Wakaf di berbagai Negara Islam
Wakaf di Saudi Arabia bentuknya bermacam-macam seperti hotel, tanah, bangunan (rumah) untuk penduduk, toko, kebun, dan tempat ibadah. Saudi Arabia memiliki Majelis Tinggi Wakaf, yang mempunyai wewenang untuk membelanjakan hasil pengembangan wakaf dan menentukan langkah-langkah dalam mengembangkan wakaf berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan wakif dan manajemen wakaf.

Pengelolaan wakaf di Yordania sangatlah produktif. Adapun hasil pengelolaan wakaf itu dipergunakan antara lain untuk : memperbaiki perumahan penduduk di beberapa kota, membangun perumahan petani dan pengembangan tanah pertanian di dekat kota Amman, mengembangkan tanah pertanian sebagai tempat wisata di dekat Amman, Membangun sebuah tempat suci di daerah Selatan, mendirikan percetakan mushaf al-Qur’an dan percetakan,dll. Pengelolaan wakaf di Kerajaan Yordania berdasarkan pada Undang-undang Wakaf Islam No. 25 tahun 1947, dilakukan oleh Majelis Tinggi Wakaf di bawah kementerian Wakaf dan Agama Islam.

Wakaf di Mesir, Sebagai negara yang sudah cukup lama mengelola harta wakaf, Mesir telah berhasil mengembangkan wakaf untuk pengembangan ekonomi umat. Di negeri ini wakaf telah berkembang dengan menakjubkan kerena memang dikelola secara profesional. Kekayaan wakaf di Mesir (Jami’ Al Azhar) pernah sepertiga aset negara Mesir sebelum dinasionalisasi oleh Presiden Gamal Abdul Naser.

Bangladesh merupakan salah satu negara yang telah mengembangkan wakaf secara modern, tidak hanya bersifat properti, tetapi sudah merambah kepada wakaf uang. Jika dilihat dari sisi jumlah harta wakaf, Bangladesh termasuk negara yang memiliki aset wakaf cukup banyak. Menurut penjelasan Adiwarman A. Karim, di Bangladesh terdapat lebih dari 8317 lembaga pendidikan Islam, 123.000 masjid, 55.584 lapangan untuk shalat ‘ied, 21.163 lahan pemakaman, 1.400 Dargah, dan 3.859 lembaga lainnya, yang merupakan harta wakaf.

Wakaf di Malaysia dapat berkembang dengan baik. Praktek pelaksanaan ibadah wakaf di Malaysia mulai subur dan berkembang pada tahun 1800an yang dipelopori oleh para pedagang Malaysia. Malaysia memiliki Johor Corporation yang mengelola harta wakaf untuk diinvestasikan di berbagai sektor ekonomi. Sedangkan Singapura memiliki WAREES (Waqaf Real Estate Singapore) yang mengelola semua aset wakaf untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat.

I. Wakaf di Indonesia
Merujuk pada data Departemen Agama (Depag) RI, jumlah tanah wakaf di Indonesia mencapai 2.686.536.656,68 meter persegi atau sekitar 268.653,67 hektar (ha) yang tersebar di 366.595 lokasi di seluruh Indonesia. Jumlah tanah wakaf yang besar ini merupakan harta wakaf terbesar di dunia. Sayangnya, tanah wakaf tersebut sebagian besar baru dimanfaatkan untuk kesejahteraan masjid, kuburan, panti asuhan, dan sarana pendidikan. Dan hanya sebagian kecil yang dikelola ke arah lebih produktif. Harta wakaf lebih banyak bersifat diam (77%) daripada yang menghasilkan atau produktif (23%). fakta perwakafan di Indonesia, punya aset besar tapi belum dioptimalkan.
Problematika pengelolaan wakaf di Indonesia:
 Kebekuan umat Islam terhadap wakaf – tradisi wakaf secara lisan tanpa akata yang sah, memunculkan persengketaan karena dianggap tidak ada bukti tertulis.
 Nazhir wakaf tradisional-konsumtif, tidak mampu memberdayakan wakaf secara profesional
 Lemahnya politikal will pemegang otoritas dalam penentuan kebijakan yang mengatur wakaf.
 Pengaruh krisis ekonomi-politik dalam negeri.
Tantangan Perwakafan Hari Ini
Kemenag RI memiliki Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai lembaga independen yang dipercaya masyarakat, mempunyai kemampuan dan integritas untuk mengembangkan perwakafan nasional dan internasional. Misi BWI yaitu menjadikan BWI sebagai lembaga profesional yang mampu mewujudkan potensi dan manfaat ekonomi harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan pemberdayaan masyarakat.
Badan Wakaf sebagai institusi pengelola wakaf yang memiliki jaringan sampai di provinsi dan kabupaten kota, secara undang-undang dan keorganisasian sudah sangat mapan. Pencanangan visi dan misi sebagaimana tersebut di atas, perencanaan (program) yang matang, strategi implementasi serta dukungan pemerintah, instansi terkait seperti perbankan (syariah) juga networking yang skalanya sudah internasional seharusnya cukup membuat BWI semestinya harus sudah menunjukkan ‘kebangkitannya’.
Sekarang perwakafan di Indonesia telah bergeliat dengan munculnya berbagai lembaga wakaf. Pesantren Gontor, UII Yogyakarta adalah beberapa lembaga yang telah eksis, dan kini banyak bermunculan lembaga-lembaga wakaf lain seperti Tabung Wakaf Indonesia, SMART Eksellensia dengan sekolah gratisnya, LKC untuk rumah sakit gratis, pun beberapa BMT lahir dari dana wakaf dengan pengembangan di sektor micro finance. BWI dengan perangkat yang ‘mapan’ tentu akan bisa berkiprah lebih besar.
Sebuah studi yang dilakukan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tahun 2010, mengungkapkan jumlah unit wakaf yang terdata mencapai hampir 363.000 bidang tanah, dengan nilai secara nominal diperkirakan mencapai Rp590 triliun.

Pemanfaatan wakaf secara produktif
Beberapa masjid di Timur Tengah banyak yang dibongkar dan dibangun kembali menjadi beberapa lantai diatas tanah yang sama. Lantai satu untuk masjid, lantai dua digunakan untuk ruang bimbingan belajar, lantai tiga untuk balai pengobatan, lantai empat untuk ruang pertemuan dan serba guna, begitu seterusnya.
Sejak zaman Nabi Muhammad, 14 abad silam, masjid punya beragam fungsi. Tidak hanya tempat ritual murni (ibadah mahdah): seperti salat dan iktikaf. Komplek masjid juga jadi pusat pemerintahan, markas militer, sentra pendidikan, bahkan ruang tawanan perang.
Data Departemen Agama (Depag) menyatakan bahwa tanah wakaf terbesar digunakan buat tempat ibadah (68%), sisanya untuk sarana pendidikan (8,5%), pemakaman (8,4%), dan lain-lain (14,6%). Masjid lantas hanya jadi ikon ketimpangan: bangunan mewah yang berdampingan dengan permukiman miskin. tak jarang pula ada masjid yang lebih sibuk berdandan, namun abai pada lingkungan. Padahal, masjid bisa dikelola agar produktif dan memberi nilai tambah.
Dengan logika wakaf, tanah masjid seharusnya bisa digunakan untuk berbagai usaha produktif, sejauh tak bertentangan dengan prinsip Islam. Masjid Nabawi pada masa Nabi pun sudah memberi teladan bahwa fungsinya tidak sekadar ibadah. Usaha produktif juga mewarnai pola pengelolaan Masjid Nabawi masa kini. Sebagian lahan wakafnya disewakan untuk hotel berbintang. Untungnya diputar buat operasional rutin masjid dan kegiatan sosial. Masjid Al-Azhar Kairo, Mesir, dengan sejumlah tanah wakafnya, juga dikembangkan dengan orientasi profit. Antara lain disewakan buat kantor-kantor pemerintahan. Al-Azhar sudah lama jadi ikon ”mesin uang” pendidikan. Karena mampu memberi beasiswa seluruh mahasiswanya dari pelbagai pelosok dunia, termasuk yang berasal dari Nusantara.
Di Indonesia, meski masih ada beberapa masjid yang berfungsi sempit, sudah pula bermunculan masjid dengan aneka guna. Terutama di kota-kota besar, perkembangan model ini makin pesat. Misalnya Masjid Agung Al-Azhar Jakarta dan Masjid Istiqamah Bandung. Keduanya sama-sama berkembang menjadi pusat pendidikan.

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Seorang muslim yang ingin mengabadikan hartanya dapat menjadikan wakaf sebagai pilihan utama. Wakaf merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan (sunnah) dalam Islam sebagai salah satu bentuk sadaqah jariyah, serta merupakan bentuk kebaikan dan ihsan yang terluas serta banyak manfaatnya..
Wakaf bertujuan untuk memberikan manfaat atau faedah harta yang diwakafkan kepada orang yang berhak dan dipergunakan sesuai dengan ajaran syariah Islam. Hal ini sesuai dengan fungsi wakaf yang disebutkan pasal 5 UU no. 41 tahun 2004 yang menyatakan wakaf berfungsi untuk mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.
Unsur-unsur dalam wakaf adalah wakif, nadzir, harta yang diwakafkan, ikrar wakaf, jangka waktu wakaf, dan peruntukan wakaf.
Harta yang dapat diwakafkan dapat berupa tanah, bangunan, uang, surat berharga, kendaraan, mesin, hak kekayaan intelektual, hak sewa, dan harta lainnya yang sesuai dengan syariah da peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Harta benda wakaf digunakan untuk membangun fasilitas-fasilitas publik di bidang keagamaan, kesehatan, pendidikan, pembangunan masjid, rumah sakit, perpustakaan, gedung-gedung, dan lainnya.
Dalam catatan sejarah perkembangan dunia Islam, wakaf telah memberikan kontribusi yang luar biasa pada perekonomian maupun kemaslahatan umat. Umat Islam menyadari bahwa wakaf merupakan salah satu sumber ekonomi yang sangat besar potensinya, namun hingga saat ini hanya sedikit harta wakaf yang dimanfaatkan secara maksimal dan produktif

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kabisi, Muhammad Abid Abdullah. Hukum Wakaf: Kajian Kontemporer Pertama Dan Terlengkap Tentang Fungsi Dan Pengelolaan Wakaf Serta Penyelesain Sengketa Wakaf. Jakarta: DDR dan IIMan.
Tim Penyusun. 2006. Perkembangan Pengelolaan Wakaf di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI.
Tim Penyusun. 2006. Fiqih Waqaf. Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI.
Hasan, Sudirman. 2011. Wakaf Uang Tunai: Perspektif fiqih, Hukum Positif, dan manajemen. Malang: UIN Maliki Press.
Djunaedi, Ahmad, dan Al-Asyar, Thobieb. 2006. Menuju Era Wakaf Produktif: Sebuah Upaya Progrsif Untuk Pemberdayaan Ummat. Jakarta: Mitra Abadi Press.

Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf

 

By: Admin (Asita 0098)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s