Berusaha Menjauhkan Diri dari Dosa

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dalam kehidupan ini…Lembaran yang putih, bersih, jernih, bening, bersinar dan bercahaya…

Diantara hikmah puasa adalah  supaya hati kita jernih untuk berpikir dan berdzikir karena banyak makan minum serta memuaskan syahwat menyebabkan kelalaian, dan adakalanya hati menjadi keras dan buta dari kebenaran karenanya.   Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang anak adam itu memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari pada perut. Cukuplah bagi seseorang makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa harus menambahnya, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya.”  (HR. Imam Ahmad dll).

Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam -Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.  Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani –Rahumahullah: “Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya.”

Ada sebuah kisah menarik dari seorang  ulama:

Dikisahkan Suatu hari, ada seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?”

“Tidak mungkin, nak,” jawab ayahnya sambil tersenyum.

Gadis kecil itu penasaran. Baginya, bisa saja ada orang yang tidak melakukan dosa selama hidupnya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?”

Sambil menggelengkan kepalanya, ayahnya berkata, “Tak mungkin, nak.”

Gadis kecil itu tidak mau berhenti bertanya. Ia bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?”

sang ayah berkata, “Tidak mungkin, nak.”

Gadis kecil itu bertanya lagi, “Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?”

Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawabnya. Lantas ia berkata, “Hmm.. Satu hari 24 empat jam Nak, sepertiganya (terpotong) 8 jam kita gunakan untuk tidur, dan sisanya kita gunakan untuk bersosialisai, jadi tidak mungkin kita tidak berbuat berdosa dalam sehari”

Gadis kecil itu mengajukan pertanyaan lagi, “Lalu bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? Tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, ayah? Bisakah?”

Ayahnya tertawa dan berkata, “Nah, kalau itu mungkin bisa, nak.”

Gadis kecil itu tersenyum lega. “Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, supaya aku bisa belajar untuk tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ayah,” kata gadis kecil itu.

Ayahnya berkata : “Kalau begitu nak,  Yuk satu jam ini,  kita taat menahan diri untuk tidak berbuat dosa,kalau memang satu jam ini kita bisa,  maka pelan-pelan kita  tambah  setengah jam, dan jam-jam berikutnya…

Banyak orang membuat niat untuk hidup baik dan menjadi sholeh selama hidupnya. Sayang, niat mereka hanya bertepuk sebelah tangan. Hari ini berjanji untuk hidup baik keesokan harinya, nyatanya langsung dilanggar dengan melakukan hal-hal yang menyakitkan sesamanya.

 

Manusia tidak ada yang maksum kecuali para nabi dan rosul.

Rosulullah yang sudah dijamin masuk surga, yang sudah digaransi dari perbuatan dosa dan maksiat, tetapi beliau ber-istighfar 70 sampai 100 kali dalam sehari.  Beliau menangis dg terisak memohon ampun kepada Allah.

Lalu bagaimana dengan diri kita ini yang berlumuran dosa, berapa banyak  istighfar yang kita ucapkan setiap harinya??

Hikmah: jika  seseorang mampu menahan dari dosa (menjauhinya) maka akan dimudahkan di-ijabah  (dikabulkan) do’a2nya dan dilancarkan rejekinya.

Rosululloh bersabda:” Tidak ada yang  bisa merubah takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang bisa menambah dalam usia kita kecuali kebaikan.” Riwayat al hakim.

Ketauhilah bahwa seseoarang terhalang dari rezekinya sebanyak  maksiat dosa yang ia lakukan. Ini merupakan arahan indah yang  ulama  nasehatkan kepada kita agar kita membanyak beristighfar.

“Kalau kalian bisa beristighfar (kata Allah), maka akan aku beri kenikmatan  yang lebih baik ketimbang kau belum beristighfar.”

Perbanyak istighfar pada Allah.  Ini penting….

Kenapa demikian?   Karena Kesuksesan kita di bulan Ramadhan ini  sangat ditentukan oleh hal ini.    Karena yang membuat kita malas dalam beribadah, cepat lelah menjalankan kan sholat lail atau terawih di bulan Ramadhan ini adalah  beban dosa yang kita pikul ini.

Dosa akan menjauhkan kita dari ibadah, dosa akan meletihkan kita. Satu dosa kita terikat dengan dosa yang lain seperti rantai besi yang terjalin kuat

Dosa akan mengundang dosa lain. Bukan mengundang  ketaatan.

Ibnu Rajab berkata “Ganjaran dari dosa adalah dosa berikutnya.  Dosa mengarahkan kita pada dosa, dosa berikutnya lagi”.

Maka, mari  kita putus  rantai dosa-dosa tersebut dengan banyak beristighfar bertobat meminta  pada Allah SWT.

Istighfar merupakan sebab diampuninya dosa, sebab masuknya surga, tertolaknya musibah serta bertambahnya harta dan anak.

Susungguhnya ala qur’an  menunjukkan penyakit dan obat kalian. Penyakit kalian adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istighfar.

Fiman Allah dalam al Qur’an surat Hud ayat 52: Dan  dia (Nabi Hud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.

Bersyukurlah kita, karena Alllah masih berkenan menutup aib-aib (dosa) kita.  Sesungguhnya kita masih dihormati dan dihargai orang lain karena Allah masih menutupi aib kita. Andaikan Allah membukakan aib (keburukan kita, sesungguhnya pastilah tidak ada yang bisa menolong kita dari kehinaan.

Andaikan aib (keburukan)itu berbau busuk  laksana seperti bangkai, maka pastilah orang akan menjauhi kita, tidak betah lama2 berada dekat-dekat  dengan kita.

Mari kita optimalkan, sepuluh hari terakhir ini dengan banyak beristighfar memohon ampunan kepada Allah.

Mari kita terus bersibuk diri memperbaiki diri menjadi pribadi muslim yang lebih  baik dan bermanfaat bagi sesama dan sekitar kita.

Semoga Ramadhan ini merupakan ramadhan yang terbaik , diantara ramadhan-ramadhan yang telah lalu  dalam hidup kita.