Investasi Zakat Untuk Kesejahteraan Ummat

Sebagai negara dengan jumlah ummat Islam terbanyak di dunia, Indonesia memiliki peluang terkumpulnya jumlah zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang besar.   Hakikat zakat yaitu dimana orang yang mampu (kaya) berkewajiban membantu orang tidak mampu (miskin). Zakat adalah rukun islam yang ketiga setelah syahadat dan sholat. Ajaran sunnah telah memberikan batasan-batasan-batasan tentang harta apa saja yang wajib dizakati, batas minimalnya (nishab), dan ukuran/jumlah zakat yang diwajibkan dalam harta-harta tersebut. Allah SWT telah menjelaskan kemana saja zakat itu disalurkan dalam al qur’an.

Pendapatan utama Indonesia bersumber dari penerimaan pajak yan ditarik dari rakyat. Penerimaan dari pajak saat ini mencapai lebih dari separuh APBN, digunakan untuk belanja dan pembangunan di Indonesia. Jika ummat muslim Indonesia memiliki kesadaran untuk membayar zakat seperti halnya kesadaran dalam membayar pajak, maka dana (ZIS) yang terkumpul tentunya akan lebih besar. Penerimaan zakat yang maksimal akan menyediakan dana yang dapat dioptimalkan dalam usaha memakmurkan masyarakat.

Salah satu alasan kurang maksimalnya penerimaan zakat adalah kurangnya edukasi (informasi) tentang zakat pada ummat. Sebagian besar zakat (ZIS) baru tekumpul dari para golongan yang melek informasi dan memahami pentingnya kewajiban berzakat, seperti kalangan kyai, ustadz, santri, maupun ‘alim yang paham agama.

Dengan segala kelebihan yang ada saat ini membayar zakat sangat mudah.   Zakat dilakukan dengan cara transfer, layanan jemput zakat, maupun dengan datang langsung ke kantor lembaga amil zakat. Kita dapat juga berkonsultasi dengan konsultan zakat untuk memperoleh informasi tentang harta yang wajib dizakati atau menghitung besarnya zakat yang harus dikeluarkan. Akhirnya marilah kita giatkan menunaikan kewajiban ber-zakat untuk membantu sesema menuju kesejahteraan bangsa. Baca lebih lanjut

Iklan