Ikatan Kesabaran dan Syukur

Hakikat dari Sabar

Hakikat sabar dan   syukur adalah ungkapan iman dalam menyhambut setiap karunia-Nya.  Sabar adalah bentuk syukur dalam menyambut kurnia nikmta-Nya yang berbentuk lara, duka, nestapa, dan mesibah.  Syukur merupakan bentuk sabar dalam menyambut kurnia-Nya dalam bentuk kesenangan, kelapangan, sukaria dan nikmat.

Para ulama menyatakan, sabar  ada dalam empat hal yaitu: mentaati Allah,menjauhi kemaksiatan, menerima musibah,, dan membersamai orang-orang yang benar.  Dan semuanya juga adalah rasa syukur kepada Allah.

1. Sabar dalam Taat

Ia kadang tersa berat, ibadah terasa hany sebagai beban, keshalihan terasa menyesakkan.  Tetapi syukurlah, Allah itu dekat, Maha Mendengar bisik pinta dan lirih taubat.

 

2. Sabar dalam menjauhi Kemaksiatan

Ia kadang tampak menarik, kedurhakaan terlihat asyik, dan dosa-dosa terbayang asyik.  Tetapi syukurlah iman itu rasa malu pada-Nya, merasa selalu dalam pengawasan-Nya yang lebih akrab daripada urat lleher kita.

 

3. Sabar dalam menghadapi Musibah

Kadang ia hadir tak terduga, menghadirkan kedukaan yang dalam  dan menyesakkan dada.  Tetapi syukurlah denganya dosa gugur, derajat dinaikkan, dan sesungguhnya beserta kesulitan itu selalu ada kemudahan.

 

4. Sabar dalam kebersamaan bersama orang Benar

seringkali kawan yang tulus lebih menjengkelkan daripada musush yang menyamar.  Tetapi syukurlah bersama mereka dalam keshalihan akan membawakan keistiqomahan, menikmati manisnya iman, berada dalam naungan Allah, dan mimbar-mimbar cahaya di surga yang iri Nabi dan Syuhada.

 

…. Dan Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar [39] :10)

Sabar sebenarnya tiada batasnya, hanya bentuknya yang boleh disesuaikan.  Maka imanlah yang akan menuntun taqwa; ia cerdik dan peka dalam memilih bentuk sabar dan syukur atas segala wujud cinta dari-Nya.  Taqwa itu membawa sabar kita mendapat kejutan yang mengundang syukur, dan jalankeluar dari masalah serta rizqi yang tak disangka-sangka.  Tiap nikmat yang disyukuri juga berpeluang  mengundang musibah yang harus disabari, seperti tampannya Yusuf dan cinta  Yaqub padanya.

Maka Tiada kata henti untuk Sabar dan Syukur, sebab ia adalah tali yang menghubungkan kita dengan Rabb Sang Pencipta.

 

(Resume: buku Lapis-Lapis Keberkahan – Salim A. Fillah, 2014. Hlm 414-415)

Iklan

Karena Allah Menunda ‘Kesuksesan’ Kita

Kesuksesan itu sunatullah, diberikan kepada orang yang profesional.

“…Barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya.”

Lantas mengapa kesuksesan itu ditunda, diakhirkan atau ditangguhkan oleh sang pencipta.  Ada beberapa Hikmah mengapa Allah ‘menunda’ kesuksesan Kita, diantaranya:

  1. Pantaskan Diri – Karena Kita masih terlalu lemah untuk memegang amanah tersebut, belum matang dan belum sempurna dalam membentuk kepribadian.  Belum menggalang semua sumber daya.  belum mengenali sejauh mana batas potensi dan keahlian yang masih terpendam.  Karena bila sukses diberikan kepada orang yang masih mentah niscaya dia tidak akan mampu bertahan.  Ia tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan kesuksesan itu lebih lama lagi.
  2. Totalitas – Agar kita mengerahkan seluruh sumber daya kekuatan yang ada dan cadangan devisa yang dipunya, tidak menyisakan sedikitpun dari sesuatu yang berharga ataupun yang dicintai melainkan semua itu dicurahkan dengan ringannya demi perjuangan di jalan Allah.  Ironisnya, selama ini kita sering kali hanya berkorban dengan sisa-sisa waktu, sia-sisa tenaga, sia-sisa harta, dan sisa-sisa lain dari bagian hidup kita.  Maka wajar bila sukses tak kunjjung tiba. Kalaupun dapat sekedar sisa?
  3. Mendekat dengan Yang Maha Kuasa –   salah satu kekuatan final untuk menggapai kesuksesan adalah dukungan dari Allah.  Sesungguhnya pertolongan Allah tidak akan diturunkan kecuali bila kita telah mengerahkan akhir kekutan yang disanggupi, dan kemudian menyerahkannya kepada Allah.  Keharmonisan hubungan dan eratnya interaksi dengan sang Pencipta akan menjadi jaminan awal bagi komitmen dalam menggapai kemenangan.
  4. Karena kita belum ikhlas secara total dalam perjuangan, mobilitas dan pengorbanan.  Kita masih melangkah setengah hati.  Melangkahkan kaki kanan ke surga tetapi menitipkan kaki kiri ke neraka. Kita belum murni dalam mengerahkan potensi dan mengarahkan kekutan kita.  Masih menimbang-nimbang antara kenikmatan dalam taat dan menikmati aneka maksiat.
  5. Karena kita tidak mampu meliohat dan memanfaatkan momentum .  Karena tersibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat,  cenderung cinta dunia, takut mati dan kehilangan momen yang bersejarah.

Awal dalam melangkah menggapai kemenangan kita perlu target yang jeleas, tujuan yang hendak dicapai, apakah mengandung kebaikan dan bermanfaat.  Jika dari awal niatnya sudah salah maka besar kemungkinan tujuan itu tidak tercapai.  Jadi pertama, Mari luruskan niat.

ketika niat sudah  diperbaiki, selanjutnya adalah memaksimalkan  sumberdaya (kekuatan) yang kita miliki dengan totalitas.  Rela mengorbankan semua yang dimiliki serta bersungguh-sungguh dalam mengoptimalakan usaha diri, memaksimalkan peluang dan kesempatan yang ada.

Dan ketika semua usaha sudah dilakukan secara maksimal, maka kini  saatnya untuk berserah diri, mengharap yang terbaik dari-Nya.  Kita harus lebih mendekatkan diri pada Allah dengan memperbanyak ilmu, ibadah dan amal untuk melancarkan usaha menggapai kemenangan.   Terkadang dalam menanti kemenangan kita kurang bersabar dan berputus asa. Menapaki jalan kesuksesan ibarat menapaki  anak tangga; kita tahu tujuan diatas, mulai menapaki satu-persatu anak tangga dengan usaha yang optimal, siap akan risiko terjatuh atau terpeleset, dan bersabar terus berjuang mencapai puncak.

Seringkali kita terpeleset dan mengalami kegagalan, teruslah berjuang dan yakinlah bahwa kemenangan akan engkau raih. Dalam 100 percobaan mencapai keberhasilan, mungkin 99 usaha mengalami kegagalan dan hanya 1 usaha yang berhasil.  Jangan takut menghadapi permasalahan dan kegagalan, karena itu adalah sarana kita untuk belajar, bangkit dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.  Pahitnya kegagalan akan memberikan rasa manisnya kemenangan.

Kunci utamanyanya: Niat yang baik, Usaha yang optimal, doa dan tawakal.

Menyikapi Musibah

Orang yang melakukan ketaatan kepada Allah SWT saat kondisi aman dan sentosa kukhawatirkan akan bergunjing saat menerima bencana, karena memang saat itulah saat ujian yang sebenarnya.

Allah “azza wa Jalla membangun namun sekaligus juga menghancurkan. Dia memberi juga merampas. oleh sebab itu, pada saat kehancuran dan perampasan, keteguhan hati dan ketaatan seseorang menjadi terlihat, dan orang yang selalu bergelimang dengan kenikmatan akan selalu melakukan ketaatan. sebab kenikmatan selalu menghampirinya. Namun bila musibah menimpa, ia menemukan kesulitan besar untuk bertahan.

Hasan Basri Ra mengatakan, “Manusia samaa saat memperoleh karunia, tetapi berbeda kala ditimpa bencana.”

Oleh sebab itu, orang cerdas adalah orang yang menyiapkan perbekalan dan memperbanyak simpanan guna menghadapi peperangan melawan bencana. Bencana pasti datang dan tak bisa dielakkan, dan kalau pun tidak datang di sepanjang kehidupan, ia pasti akan datang saat kematian menjelang, karena jika telah datang ia akan mengantarkan ke kekafiran. saat itu jiwa tak mempunyai sesuatu yang bisa melahirkan ridha dan kesabaran.

Beliau pernah mendengar orang yang dilihat sering melakukan kebaikan berkata pada malam kematiannya, ” Tuhanku, si A telah menzalimuku.”

Karena itu beliau selalu berada dalam kondisi penuh ketakutan dalam rangka mempersiapkan bekal untuk menghadapi saat yang mengerikan itu.

>> Telah diriwayatkan, ” Saaat orang akan meninggal, setan berkata pada balatentaranya, ‘Fokuskan gangguan kalian pada orang ini! Kalau kalian tak berhasil mengganggunya saat ini kalian tak akan lagi bisa mengganggunya untuk selama-lamanya!.”

->Hati siapa yang akan mampu bertahan saat napas sudah terhenti,  kerongkongan telah tersedak, nyawa akan dicabut, dan perpisahan dengan para kekasih ke tempat yang tidak iketahui akan segera terjadi?–

Semoga Allah SWT memelihara kita dari bahaya saat itu,  dan mudah-mudahan Dia menganugrahkan  kita kesabaran atau keridhaan dalam menghadapi bencana..

Semoga Pemilik Segala sesuatu memberi kita sebagian dari kedermawannan-Nya kepad para kekasih-Nya, sehingga pertemuan dengan-Nya lebih kita cintai dari kehidupan di dunia, dan kepasrahan kita kepada ketetapan-Nya lebih kita sukai dari pilihan kita sendiri.

Kita berlindung kepada Allah dari meyakini kesempurnaan usaha kita, sehingga saat kondisi tak berpihak pada kita,  kita pun marah pada takdir-Nya.  Keyakinan seperti ini merupakan kebodohan yang nyata dan kerugian yang sebenarnya.  Semoga Allah melindungi kita darinya…

Sumber: Shaid al Khatir- Al Jauzi. halaman 194-195.