TUTORIAL PHOTOGRAPHY

pic_additional_04

Kamera adalah suatu alat yang digunakan untuk ‘menangkap’ cahaya lewat sensor. Informasi dari cahaya yang ditangkap di sensor itu lalu diterjemahkan menjadi gambar. Jika jumlah cahaya yang tertangkap di sensor itu kurang, maka gambar akan menjadi terlalu gelap (underexposed/UE). Sebaliknya, jika cahaya yang tertangkap di sensor berlebihan, maka gambar akan menjadi terlalu terang (overexposed/OE).

Ada tiga hal yang bisa disetting di kamera untuk mengatur exposure: shutter speed, aperture, dan ISO. Apa peran dari masing-masing settingan tersebut?

Jika diibaratkan sensor adalah sebuah ember, dan cahaya adalah air yang akan diisikan ke ember tersebut, maka exposure yang ‘tepat’ adalah saat ember terisi air pas hingga bibir ember. Jika tinggi air tidak mencapai bibir ember, maka gambar akan underexposed, dan jika air luber maka gambar overexposed.

iso

KONSEP

1. Shutter speed

Shutter speed adalah kecepatan atau lamanya shutter membuka sehingga cahaya mengenai sensor. Jadi, shutter speed bisa diibaratkan lamanya kita membuka keran untuk mengisi air. Semakin lama keran dibuka, maka akan semakin banyak air yang mengisi ember.

Shutter speed diukur dalam satuan waktu, dan kamera DSLR rata-rata dapat menggunakan shutter speed dari 1/4000 detik hingga 30 detik. Karena shutter speed yang digunakan kebanyakan kurang dari satu detik (pecahan), maka biasanya yang tertulis di viewfinder kamera adalah pecahannya saja (shutter speed 1/100 detik akan tertulis 100) di viewfinder. Satuan ‘detik’ biasanya tertulis sebagai tanda kutip (“), jadi shutter speed 2 detik akan tertulis sebagai 2″. Terkadang satuan detik digunakan juga dalam pecahan, misalnya 0.6″.

Speed 1

Makin besar angkanya, maka gambar akan makin gelap. Faktor pengali satu stop adalah 2x, misalnya shutter speed 1/100 akan 1 EV lebih terang daripada shutter speed 1/200 jika scene dan settingan yang lain tetap sama.

(EV adalah satuan brightness, di mana selisih 1EV berarti selisih brightness yang disebabkan jumlah cahaya yang masuk berbeda 2x lipat. 1 EV sering disebut juga 1 stop, istilah warisan dari jaman kamera film dulu.)

2. Aperture

Aperture adalah bilah-bilah (biasanya terbuat dari logam) yang terdapat di dalam lensa. Bilah-bilah ini dapat bergerak, saling berpotongan dan menutupi sekeliling penampang lensa, sehingga hanya bagian tengah lensa yang dapat dilewati cahaya. Dengan demikian, aperture bisa diibaratkan penampang pipa yang menyalurkan air. Walaupun sama-sama hanya dibuka selama satu detik, misalnya, pipa yang besar akan mengalirkan air lebih banyak daripada pipa yang sempit.

Satuan aperture adalah diameter bukaan bilah-bilah. Dinyatakan dalam pecahan, biasa tertulis sebagai f/X atau 1/X, di mana X adalah angka aperturenya. Yang tertulis di viewfinder kamera seringkali hanya angka X nya saja.

Arpeture 2.8Arpeture f 22

Faktor pengali satu stop adalah √2 (akar dua), atau gampangnya 1.4x; artinya bukaan f/3.5 akan 1EV lebih terang daripada bukaan f/5.6. Makin besar angkanya, maka gambar akan makin gelap.

3. ISO

ISO adalah sensitifitas sensor. Makin tinggi ISO, maka makin sedikit cahaya yang dibutuhkan untuk mencapai brightness tertentu. Menaikkan ISO bisa diibaratkan memasukkan bebatuan ke dalam ember sehingga jumlah air yang dibutuhkan semakin sedikit.

ISO 2 ISO 3 iso 4

Satuan ISO adalah angka ISO. Faktor pengali satu stop adalah 2x, di mana ISO 800 akan 1EV lebih terang daripada ISO 400.

EFEK PADA FOTO

Selain mengatur brightness gambar, masing-masing sisi segitiga exposure ini mempengaruhi hasil akhir foto.

Shutter speed yang lama akan memungkinkan objek atau kamera bergerak selama cahaya mengenai sensor, sehingga foto menjadi blur, sebagian atau sepenuhnya.

Aperture yang besar (angka aperture yang kecil) akan menghasilkan depth-of-field (ruang tajam) yang sempit, sehingga benda-benda yang berjarak tidak terlalu jauh dari jarak fokus pun akan mulai blur. Hal ini bisa jadi hal positif jika ingin membuat bokeh, namun bisa jadi hal negatif jika kita ingin mempunyai ruang tajam yang luas.

ISO yang tinggi berarti sensornya makin sensitif, dan efeknya menimbulkan noise pada gambar.

MENGATUR EXPOSURE

Kamera mempunyai kemampuan ‘melihat’ scene dan menghitung exposure yang tepat untuk scene tersebut, bahkan menghitung kombinasi aperture, shutter speed, ISO untuk scene tersebut. Dalam kamera ada mode exposure manual (Manual) dan otomatis (Automatic, Program, Aperture Priority dan Shutter Speed Priority). Silakan periksa manual kamera masing-masing.

Kita dapat mempengaruhi perhitungan kamera tersebut dengan menerapkan Exposure Compensation; kita bisa memerintahkan kamera untuk menghitung (dan menggunakan) exposure yang lebih terang atau lebih gelap dari exposure yang dianggapnya tepat. Jika kita menggunakan -2/3EV, misalnya, maka kamera akan menghasilkan hasil penghitungan exposure yang lebih gelap -2/3EV dari exposure yang (jika tanpa compensation) dianggapnya tepat.

Tips  Untuk Membuat Foto Yang Lebih Bagus

1. Lihat-lihat foto

Salah satu cara belajar bahasa visual adalah dengan melihat foto-foto orang lain. Perhatikan foto mana saja yang Anda anggap cukup bagus untuk Anda pajang di rumah. Amati dan pelajari foto tersebut secara visual: warna, tone, garis, komposisi, hingga muatan emosi yang terkandung. Bayangkan kira-kira bagaimana objek foto tersebut terlihat di dunia nyata? Apakah anda kira-kira akan memutuskan untuk memotret obyek tersebut jika melihat hal yang sama di dunia nyata (yang belum tentu terlihat sebagus itu)?

2. Jangan langsung memotret. Pilih angle yang cocok.

Saat kita melihat sesuatu yang ingin kita foto, seringkali kita langsung mengangkat kamera, membidik, dan memotret. Sebelumnya, coba lihat obyeknya dulu, dan situasi sekelilingnya. Cahaya datang dari arah mana? Apakah ada sudut lain yang akan membuat obyeknya tampak lebih menarik? Mungkin Anda perlu memutari obyek, menjauhi atau mendekati, jongkok atau mengangkat kamera ke atas kepala.. Mungkin obyek akan terlihat lebih menarik di sebelah pohon, daripada di depan pohon (misalnya). Jelajahi semua kemungkinan dulu sebelum memotret 🙂

Begitu pula dengan foto-foto yang Anda sukai (di poin nomer satu). Apa efek angle yang dipilih fotografer terhadap foto? Apakah fotografernya kira-kira memotret sambil berdiri, atau jongkok, atau memanjat pohon? Jika Anda dihadapkan pada obyek yang sama, apakah akan terpikir untuk mengambil angle yang sama? 🙂

3. Tentukan apa yang tidak perlu difoto

Banyak foto yang menjadi lemah karena banyak hal-hal tidak perlu dalam foto yang mengalihkan perhatian. Tentukan apa yang ingin Anda sampaikan/ceritakan melalui foto Anda, pilih apa yang Anda perlukan, lalu ‘buang’ sisanya (antara lain dengan memilih angle lain, seperti poin sebelumnya).

4. Pilih momen yang tepat.

Tunggu, bahkan ramalkan saat yang tepat untuk memotret.
Jika Anda melihat sepasang kakek-nenek sedang duduk dan bercengkerama dengan mesra, imajinasi Anda mungkin dengan cepat mengenali hal tersebut sebagau cerita yang menarik untuk disampaikan. Tapi, secara visual, belum tentu.
Cerita yang tersampaikan lewat foto hanyalah apa yang tampak di foto. Jika Anda memotret saat mereka berdua sedang tertawa bersama, tentu ceritanya akan berbeda dibanding saat mereka sedang terdiam. Saat mereka saling menatap, tentu akan berbeda dibanding saat salah satunya sedang menutup mata (bahkan kalau hanya berkedip selama sepersekian detik).
Ramalan (via perkiraan, bukan via mistis!) dan antisipasi pun terkadang diperlukan. Kalau perlu, gunakan burst mode untuk menambah kemungkinan Anda menangkap momen yang tepat.

Istilah-Istilah Lensa Kamera DSLR

1. Focal length (riil dan ekivalen)

Focal length adalah jarak titik focus lensa. Hal ini mempengaruhi: lebarnya bidang pandang lensa (FL ekivalen), tebalnya ruang tajam (FL riil), dan perbandingan ukuran benda-benda yang jaraknya berbeda dari lensa (FL ekivalen). Makin besar FL lensa, maka bidang pandang akan makin sempit (seolah-olah kita mendekati obyek), ruang tajam akan makin sempit (di jarak dan bukaan yang sama), dan benda-benda yang jauh (background) akan terlihat makin sama ukurannya dengan benda-benda yang dekat (foreground atau objek utama). Persamaan ukuran ini biasa disebut juga sebagai (efek) kompresi: karena benda-benda di belakang terlihat berukuran tidak terlalu berbeda dengan objek di depan, maka mereka terlihat seolah-olah berjarak lebih dekat satu sama lain.

Berbeda dengan definisi yang sering dipakai orang awam, lensa “zoom” berarti lensa tersebut mempunyai FL yang bervariasi. Misalnya seperti contoh di atas, mempunyai FL 17-50mm. Lensa yang bisa membuat kita seolah-olah mendekati objek disebut lensa tele (bukan zoom), dan lensa-lensa tele ini biasanya mempunyai FL 135mm ke atas. Di sisi lain, bisa saja lensa tele juga merupakan lensa zoom, misalnya lensa dengan FL 150-500mm (FLnya besar = tele, FLnya bervariasi = zoom). Kebalikan dari tele adalah wide (bidang pandang lebar, FL kecil).

Apa maksudnya FL riil dan ekivalen? FL riil berarti angka tersebut mengacu ke jarak fokus lensa itu sendiri. FL ekivalen sebuah lensa mengacu ke jarak fokus lensa yang jika dipasang di kamera fullframe akan mempunyai field of view (bidang pandang) yang sama dengan lensa tersebut (jika dipasang di kamera tersebut).
Misalnya: lensa 50mm jika dipasang di kamera Olympus PEN akan mempunyai field of view yang sama dengan lensa 100mm di kamera fullframe. Maka, lensa 50mm dikatakan mempunyai FL ekivalen sebesar 100mm di kamera Olympus PEN. Faktor pengali (2x lipat) ini disebut “crop factor”, yang dipengaruhi ukuran sensor kamera tersebut.

Tidak perlu bingung, karena kebanyakan yang menuliskan FL ekivalen adalah lensa yang terpasang di kamera pocket. Jika Anda melihat suatu kamera pocket menuliskan FLnya 28mm, kemungkinan besar FL riilnya hanyalah sekitar 5mm, dan 28mm tersebut adalah FL ekivalen.

Tidak semua lensa adalah lensa zoom. Ada juga lensa prime/fix, yang hanya mempunyai satu FL yang tetap. Misalnya, lensa 50mm. Kelebihan lensa 50mm ini adalah kualitas yang (biasanya) lebih bagus, dan aperture maksimal yang lebih besar. Apa itu aperture maksimal?

2. Bukaan/aperture maksimal

Kebanyakan lensa menuliskan aperture maksimal yang bisa digunakan lensa tersebut. Sebagai contoh, lensa kit/standar DSLR yang biasanya mempunyai spek 18-55mm, f/3.5 – 5.6. Spek ini berarti, lensa tersebut mempunyai rentang FL antara 18mm hingga 55mm. Di FL 18mm, lensa tersebut mempunyai aperture maksimal f/3.5; di FL 55mm lensa tersebut mempunyai aperture maksimal f/5.6.

Jika suatu lensa zoom hanya mempunyai satu angka aperture yang dituliskan, berarti lensa zoom tersebut mempunyai aperture maksimal yang sama, terlepas dari FL yang digunakan. Misalnya di contoh lensa 17-50/2.8 tadi, maka lensa tersebut bisa dibuka maksimal hingga f/2.8, dari FL paling wide (17mm) hingga paling tele (55mm).

3. Crop factor

Seperti yang dijelaskan di atas, kamera mempunyai crop factor. Untuk merk-merk DSLR kebanyakan, hanya ada dua jenis kamera: fullframe (tanpa crop factor, atau crop factor 1x) dan APS-C yang mempunyai crop factor 1.5x (Nikon, Sony, Pentax), atau 1.6x (Canon). Kamera fullframe mempunyai ukuran sensor yang lebih besar dibandingkan APS-C. Karena itu, lensa yang digunakan pun akan berbeda.

Lensa fullframe menghasilkan gambar yang lebih luas di bidang sensor, sedangkan lensa APS-C menghasilkan gambar yang lebih sempit, dan hanya cukup menutupi bidang sensor sebesar APS-C saja. Karena itu, lensa fullframe bisa digunakan di kamera APS-C, tapi lensa APS-C tidak bisa digunakan di kamera fullframe. Jika lensa APS-C digunakan di kamera fullframe, maka hasilnya akan vignetting (ada warna hitam di sekeliling foto), karena lensa hanya menghasilkan gambar di bagian tengah bidang sensor fullframe tersebut. Ini pun, tidak semua lensa APS-C bisa dipasang di kamera fullframe. Beberapa lensa bisa menjorok terlalu dalam hingga akan terpukul oleh gerakan lensa dalam kamera, misalnya.

Lensa crop factor APS-C vs. fullframe ini dituliskan sebagai: EF-S vs EF (Canon), DX vs FX (Nikon), Di II vs Di (Tamron), dsb.

4. Peredam getaran

Beberapa lensa mempunyai mekanisme peredam getaran. Jika kita memegang kamera dengan tangan, mau tidak mau kamera akan bergoyang, walaupun sedikit. Di shutter speed yang pelan, goyangan ini akan terlihat di hasil foto. Mekanisme ini memungkinkan elemen-elemen lensa untuk bergerak melawan arah goyangan/getaran tangan kita, sehingga mengurangi efek goyangan yang terlihat di foto.

Kebanyakan mekanisme peredam getaran bisa mengurangi getaran hingga 2 stop, yang berarti efek goyangannya akan dikurangi sehingga terlihat seolah-olah kita memotret dengan shutter speed 4x lebih cepat (sama dengan 2 stop).

Mekanisme ini disebut dengan IS (Canon), VR (Nikon), VC (Tamron), OS (Sigma), OSS (Sony E), dsb.

5. Motor/mekanisme focusing

Banyak produsen lensa yang menggunakan motor/mekanisme focusing yang berbeda di lensa mereka. Jika suatu lensa menggunakan mekanisme yang bagus, biasanya hal ini akan dicantumkan di nama lensanya. Mekanisme yang bagus biasanya berarti lensanya akan lebih cepat saat autofocusing, dan suaranya pun lebih halus.

Mekanisme ini disebut dengan USM (Canon), SWM (Nikon), USD/PZD (Tamron), HSM (Sigma), SSM (Sony), dsb.

6. Internal focusing

Lensa biasanya akan berputar dan memanjang/pendek saat focusing. Internal focusing berarti lensa tersebut tidak memanjang/pendek ataupun berputar saat focusing. Hal ini berguna saat Anda menggunakan filter yang perlu digunakan dengan sudut yang sama, misalnya GND atau CPL.

7. Rear focusing

Istilah rear focusing pada lensa berarti pada lensa melakukan focusing dengan menggerakkan elemen belakang. Hal ini mengakibatkan focusing menjadi lebih cepat dan halus.

Hingga titik ini, sebenarnya semua spek lensa yang penting sudah Anda ketahui. Istilah-istilah berikutnya hanya mengacu ke teknologi yang digunakan di elemen-elemen optis. Teknologi tersebut mempengaruhi hasil akhir foto, sehingga harusnya sudah tercantum dalam reputasi dan hasil review lensa tersebut.

8. Aspherical element

Aspherical element menandakan bahwa lensa tersebut menggunakan elemen optis yang bentuknya bukan bundar (saya juga tidak paham persis). Hal ini mengurangi efek cembung pada hasil foto, dan juga memungkinkan rancangan lensa yang lebih ringkas dan berkualitas.

9. Low dispersion

Apakah Anda pernah melihat warna keunguan (biasanya) di pinggir daerah-daerah yang cerah/berwarna putih di foto Anda? Hal ini disebut color fringing atau color aberration (CA). Low dispersion menandakan bahwa lensa tersebut mempunyai CA yang kurang daripada lensa yang tidak mempunyai low dispersion.

Masih banyak istilah-istilah lain yang mengacu ke berbagai macam hal. Silakan periksa website masing-masing produsen untuk melihat daftarnya.

Mode Auto atau PASM, mana yang sebaiknya digunakan?

Kamera DSLR mempunyai banyak pilihan/settingan: white balance, ISO, aperture, shutter speed, AF point, metering, dsb. Untungnya, kamera bisa mengatur semua pilihan tersebut untuk kita, dengan menggunakan mode Auto. Kita tinggal menekan shutter saja.

Kamera juga menyediakan mode-mode lain di mana kita bisa mengambil kendali atas pilihan-pilihan tersebut. Biasanya tersedia empat mode lagi, yang biasa disingkat PASM: Program, Aperture priority, Shutter speed priority, dan Manual. Keempat mode tersebut bertahap mulai dari yang paling otomatis hingga yang paling manual. (Tentu saja, hal ini mungkin berbeda tergantung merk kamera. Di Canon, misalnya, A dan S tertulis sebagai Av dan Tv.)

Program mode: kita bisa menentukan white balance (walaupun ada pilihan Auto WB juga), ISO, exposure compensation, AF point, dan metering. Kamera akan menentukan aperture dan shutter speed yang diperlukan (termasuk setelah penyesuaian dengan exposure compensation yang kita tetapkan).

Aperture priority: mirip seperti Program, tapi kita juga menentukan aperture yang akan digunakan, sedangkan kamera tinggal menentukan shutter speednya.

Speed priority: semacam kebalikan dari Aperture priority, di mana kita menentukan shutter speed dan kamera yang menentukan aperturenya.

Di ketiga mode di atas, kita juga bisa memilih untuk membiarkan kamera memilih ISO secara otomatis (auto ISO).

Manual: mirip seperti di atas, namun kita harus menentukan sendiri segitiga exposurenya: shutter speed, aperture, dan ISO.

Jadi, mana yang seharusnya kita gunakan?

à> mode yang seharusnya kita gunakan ya mode yang memudahkan kita untuk mengambil foto yang sesuai dengan keinginan.

Di mode P, yang ditentukan otomatis oleh kamera hanyalah aperture dan shutter speed saja (dan ISO dan White Balance, jika memang kita tentukan demikian). Jika Anda puas dengan settingan otomatis kamera, ya mengapa tidak memotret menggunakan mode P?

Mode A dan S memberikan kita kendali lebih banyak satu langkah lagi: kita bisa menentukan salah satu dari shutter speed atau aperture, dan membiarkan kamera menentukan yang satunya lagi. Bagi saya pribadi, mode A atau S ini cukup untuk mayoritas kasus pemotretan. Di mode A dan S ini sebenarnya kita sudah mempunyai kendali penuh atas semua settingan di kamera. Kita bisa menentukan dua sisi dari segitiga exposure, kamera akan menentukan satu sisi, dan jika masih kurang tepat kita bisa menetapkan exposure compensation.

Selain itu, konsep segitiga exposure adalah konsep yang lumayan mudah dipahami, kok. Seperti A + B + C = X, di mana X ditentukan kondisi lighting pada lokasi (ditambah penyesuaian sesuai dengan pilihan kreatif kita). Jika A naik, maka nilai B dan/atau C harus turun dalam jumlah yang sesuai. Jika B naik, maka A dan/atau C harus turun. Dan kombinasi-kombinasi lain yang tidak perlu dihafal, cukup intuitif saja.

Paling mendasar, tujuan kita toh menciptakan foto yang indah, bukan untuk menjadi orang yang paling jago menyetting kameranya 😉

lense name

Foto yang bagus, yang seperti apa?

contoh foto

foto yang ‘dibilang’ bagus itu ada dua jenis:

– Bagus secara teknis. Foto yang bagus secara teknis ini mengikuti teori-teori fotografi; misalnya exposurenya pas, ketajaman cukup, white balance yang benar, dan sebagainya.

– Bagus secara estetis. Foto yang bagus secara estetis ini ya pokoknya yang enak dilihat. Bisa karena keindahannya, bisa karena maknanya, bisa karena hubungan pribadi dengan objeknya, dsb.

Sumber diolah  repost dari: http://blajarmotret.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s